Pengertian dan Contoh Inflasi Dalam Konsumsi Sehari-Hari!

3
63208
Contoh Inflasi

Contoh Inflasi – Mungkin kamu pernah merasa bahwa harga barang terus naik dan bingung mengapa bisa seperti itu. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya Inflasi.

Pengertian Inflasi

Inflasi merupakan kondisi di mana terjadi kenaikan harga barang dan jasa dalam sebuah negara seiring dengan waktu. Ketika terjadi inflasi, kemampuan kita membeli barang akan menurun. Ketika semula kita bisa membeli sebuah barang dengan nilai Rp.5,000, maka tahun berikutnya belum tentu barang tersebut berharga Rp. 5,000.

Penyebab inflasi sangat beragam, namun pada umumnya inflasi terjadi akibat adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan yang meningkat yang tidak disertai persediaan barang yang cukup. Sehingga, seperti hukum supply and demand, harga kebutuhan pun akan meningkat. Salah satu penyebab lain terjadinya inflasi adalah jumlah uang beredar yang lebih banyak dari yang dibutuhkan, sehingga harga barang pun cenderung akan naik.

Sementara itu, efek dari inflasi ini tentunya akan sangat merugikan masyarakat karena dengan jumlah uang yang sama, kita hanya dapat membeli barang yang sama dengan jumlah lebih sedikit. Ilustrasi apa itu inflasi dan efeknya bisa dilihat di video di bawah ini.

Inflasi sendiri terdapat emang golongan, yaitu inflasi ringan, inflasi sedang, inflasi berat, dan hiperinflasi. Masing-masing dari inflasi ini memiliki kenaikan harga yang berbeda, seperti inflasi ringan kenaikan harganya berada di bawah 10% per tahun, inflasi sedang di angka 10%-30% per tahun, inflasi berat di angka 30%-100% per tahun, sedangkan hiperinflasi di angka 100% per tahun.

Pengaruh dan Contoh Inflasi dalam Barang Konsumsi Sehari-hari!

Salah satu contoh inflasi barang konsumsi yang paling menonjol belakangan ini dalam kehidupan sehari-hari adalah kopi. Peminat dari kopi sendiri sangat beragam mulai dari pegawai kantoran, mahasiswa, dan lainnya. Mungkin di 5 tahun kebelakang kopi masih hanya sebuah “teman” saat berbincang sekaligus berkumpul bersama teman. Tetapi sekarang kopi sudah menjadi hal wajib untuk kesehariannya, bahkan sebagian dari mereka sudah memiliki ketergantungan dengan kopi.

Di era sekarang rata-rata harga secangkir atau segelas kopi  ada di sekitar Rp 30.000,-. Nah harga tersebut berpotensi mengalami kenaikan setiap tahunnya dikarenakan adanya inflasi. Perlu diketahui bahwa harga secangkir atau segelas kopi di indonesia sendiri memiliki tingkat inflasi rata-rata 8%-10% per tahun. Kita bisa lihat tabel dibawah:

Inflasi 2019 2020 2025 2030
10% / Tahun Rp. 30.000, / Kopi Rp. 33.000,- / Kopi Rp. 54.000,- / Kopi Rp. 86.000,- / Kopi

Tabel diatas menampilkan harga rata-rata kopi di tahun ini senilai Rp. 30.000,- / kopi,. Dengan asumsi tingkat inflasi secangkir kopi konstan di angka 10% per tahun, maka di tahun 2030 harga kopi bisa mencapai Rp. 86.000,- / kopi. Mungkin di tahun 2019 sampai tahun depan harga kopi masih terjangkau untuk kamu, tapi di 2030 harga kopi tersebut sudah mencapai Rp 86.000,- untuk secangkir kopi. Lumayan tinggi bukan?

Dampak Inflasi Terhadap Properti!

Berbicara mengenai inflasi tentu tidak akan lepas dari harga-harga properti. Menurut beberapa survei, kaum milenial akan kesulitan memiliki rumah dikarenakan meningkatnya harga properti yang sangat cepat.

Sebagai contoh, di Jakarta sendiri harga rumahnya bermacam-macam. seperti di Jakarta Timur lebih tepatnya di Pulo Gebang menjadi area yang cukup terjangkau di kawasan Jakarta, karena rata-rata harga rumah di sekitar sini Rp. 300 juta hingga Rp. 500 juta untuk rumah ukuran 100 m2.

Di Jakarta Selatan, tepatnya di Ciganjur rata-rata rumah di sana mencapai Rp. 400 juta hingga Rp. 500 juta untuk rumah ukuran 100 m2. Berbanding terbalik dengan harga di Kelapa Gading yang rata-ratanya mencapai Rp. 50 juta per meter persegi artinya jika rumah seluas 100 m2, maka harganya mencapai Rp. 5 milyar.

Harga rumah terjangkau lainnya berada di Cibubur, Jakarta Timur dan Ciracas yang rata-rata mencapai Rp. 500 juta hingga Rp.800 juta untuk rumah ukuran 100 m2. Jika di rata-ratakan, harga rumah di Jakarta untuk rumah ukuran tersebut mulai dari Rp. 300 juta untuk yang termurah, hingga Rp. 5 milyar untuk yang termahal.

Dengan harga rumah yang sudah mencapai milyaran tersebut, sekarang sudah tahu kan kenapa milenial diprediksi sulit untuk memiliki rumah? Terlebih lagi dengan adanya inflasi yang mencapai 15% per tahun di sektor ini. Untuk lebih jelasnya bisa kita lihat contoh inflasi tabel dibawah ini:

Tahun 2019 2020 2025 2030
15% / tahun Rp. 500 juta Rp. 575 juta Rp. 1,15 milyar Rp. 2,32 milyar


Dengan asumsi tingkat inflasi 15% per tahun, maka harga rumah yang tadinya hanya Rp 500 Juta bisa menjadi lebih dari Rp. 2 Milyar dalam 10 tahun.

So, dari contoh inflasi di atas, sudah pahamkah kamu dampak dari inflasi?

Sudah siapkah kamu menghadapi masa depan dengan adanya efek inflasi ini?

Bagaimana Melawan Inflasi?

Dari video tersebut dapat terlihat jelas efek dari inflasi. Semua lapisan masyarakat perlu menyadari efek inflasi ini karena inflasi tidak pandang bulu. Apabila masyarakat berdiam diri, nilai kekayaan yang mereka punya akan berkurang seiring dengan waktu karena nilai riilnya “terpotong” inflasi.

Salah satu cara melawan efek dari inflasi adalah dengan memulai investasi.

Investasi memiliki imbal hasil beragam, tetapi yang paling penting kita perlu memilih investasi yang memberikan imbal hasil jauh di atas laju inflasi.

Investasi seperti apakah yang tepat untuk melawan inflasi? Mari kita telaah sedikit. Laju inflasi rata-rata Indonesia itu sekitar 3%-4% per tahun, tetapi kita ambil asumsi terburuk 4% per tahun. Sebagai perbandingan, Menurut data Kemenkeu, tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun dari Agustus 2019 terhadap Agustus 2018 sebesar 3,30 persen. Sementara itu, kebanyakan masyarakat Indonesia hanya bergantung kepada tabungan dan deposito saja, padahal tidak efektif melawan inflasi.

Jika kita ambil rata-rata bunga tabungan sekitar 1%-2% per tahun, maka sudah jelas menabung di tabungan biasa bukanlah cara yang baik dalam melawan inflasi. Bagaimana dengan deposito? Deposito bisa ada yang menawarkan bunga sampai dengan 6% per tahun, sehingga terlihat cukup. Akan tetapi jangan lupa ada biaya pajak deposito sebesar 20% dari imbal hasil ini, sehingga aktualnya kita hanya akan mendapat imbal hasil 4.8% per tahun. Angka ini bukanlah angka yang aman karena laju inflasi bisa naik sewaktu-waktu.

Cara lain adalah berinvestasi di peluang investasi yang memiliki imbal hasil di atas deposito. Bagi yang belum pernah berinvestasi, ada banyak bentuk investasi yang aman untuk pemula.

Lawan Inflasi Dengan P2P Lending Akseleran!

Ada cara lain untuk melawan inflasi, yaitu dengan memberikan pinjaman. Lho? Kok memberikan pinjaman bisa mengatasi inflasi? Melalui platform Peer-to-peer (P2P) Lending, kamu bisa memberikan dana kepada UKM yang membutuhkan pinjaman, dan menikmati hasil dari bunga pinjaman tersebut. Sehingga, dana yang kamu berikan akan kamu terima kembali dengan bunganya. Bisa dibilang, P2P Lending ini merupakan salah satu cara untuk melawan inflasi.

Salah satu platform P2P Lending produktif di Indonesia adalah Akseleran. Melakukan pendanaan di Akseleran juga sangat aman karena lebih dari 99% nilai portofolio pinjamannya memiliki agunan dan diproteksi asuransi, sehingga dapat menekan tingkat risiko yang ada. Akseleran juga sudah berizin resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin. Akseleran juga memberikan dana awal senilai Rp 100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode BLOG100.

BLOG100

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau bisa via email [email protected]

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here