Memahami Penyebab Margin Call dalam Investasi

0
110
Margin Call Adalah

Investasi merupakan salah satu cara untuk meraih kemapanan finansial di masa depan. Pasalnya, investasi tersebut dapat memberikan imbal hasil berdasarkan instrumen yang dijalankan.

Namun, imbal hasil investasi bisa mengalami penurunan ataupun kenaikan sesuai margin call. Bagi para investor pemula, margin call adalah hal yang harus diwaspadai. Hal itu karena margin call dapat mengakibatkan penanam modal merugi dalam sekejap.

Ingin tahu lebih banyak tentang margin call? Yuk, simak ulasan berikut ini!

Apa Itu Margin Call?

Margin call (MC) merupakan pemberitahuan dari broker investasi kepada investor untuk menambah modal ke rekening. Biasanya, notifikasi tersebut diberikan saat muncul pergerakan harga yang berpotensi merugikan. 

Nah, dengan penambahan dana, berarti investor menjamin menyelesaikan kontrak meski bisa terjadi kerugian posisi. Beberapa hal yang dimaksud “posisi” dalam investasi dapat berupa mata uang, sekuritas, maupun komoditas.

Contoh kasus MC; Anda membeli saham $3000, tetapi hanya memasang $1.500. Pembelian tersebut dibayarkan secara tunai ditambah pinjaman sebesar $1.500 dari broker demi keamanan saham.

Sayangnya, saham yang Anda beli kini turun menjadi $2.800. Berarti ada kekurangan dana $200 di akun atau rekening Anda. Di posisi inilah broker akan memberikan pemberitahuan atau margin call untuk menempatkan poin yang sama.

Dalam menempatkan level MC, broker investasi memiliki cara membaca yang berbeda. Pertama; broker dapat menggunakan cara membaca level 100%. Artinya, Anda akan mendapatkan notifikasi atau warning ketika nilai ekuitas sama dengan 100% margin requirement.

Cara kedua, yakni menggunakan strategi membaca MC level 40%. Berarti, broker akan memberikan pemberitahuan kepada Anda saat nilai ekuitas sama dengan 40% margin requirement.

Penyebab Margin Call

Untuk mengantisipasi terjadinya MC, Anda perlu mengetahui penyebabnya. Berikut ini lima penyebab utama MC.

  • Terlalu Percaya Diri saat Trading

Umumnya, investor pemula akan mempertaruhkan lebih banyak modal saat merasa imbal hasil yang didapatkan cukup besar. Padahal, ia baru berinvestasi sekali itu saja tanpa mengetahui detail risikonya.

Akhirnya, investor pun abai pada kondisi pasar yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan kerugian, seperti floating loss dan stop loss.

  • Tidak Memiliki Rencana Investasi

Rencana investasi meliputi dua hal, yakni manajemen keuangan dan risiko. Keduanya harus dihitung secara tepat agar Anda bisa menempatkan dana investasi sesuai porsinya.

  • Kurang Pengetahuan Investasi

Banyak investor mengalami kerugian dalam berinvestasi karena minim pengetahuan. Sebagian dari mereka mengikuti investasi hanya untuk gengsi atau terbawa emosi. 

Itulah sebabnya, calon investor harus memperbanyak literasi seputar investasi sebelum benar-benar menggeluti. Semisal, dengan memahami istilah-istilah terkait instrumen investasi dan mengetahui cara kerjanya.

  • Menjadikan Investasi sebagai Penghasilan Utama

Banyak investor pemula yang menjadikan imbal hasil investasi sebagai pendapatan utama. Akibatnya, investor membuat target-target penghasilan di luar kemampuan. 

Jika hal itu diteruskan, investor pemula akan mengeluarkan modal tanpa perhitungan matang. Semisal, dalam trading, sebagian pemain kerap memasukkan dana di luar batas lot yang dimiliki. Padahal, kondisi pasar trading kadang-kadang meleset dari prediksi.

Lalu, bagaimana cara menghindari margin call?

Ada dua cara menghindari margin call, yaitu manajemen modal dan risiko. Manajemen modal membantu Anda untuk menjaga uang yang disetorkan dalam jangka lama. Manajemen modal juga memastikan investor mendapatkan keuntungan konsisten atau bertahan di posisi sebelumnya.

Baca juga: Kelola 5 Bisnis Ini Agar Mendapatkan Penghasilan Tambahan

Kunci kedua untuk menghindari margin call adalah manajemen risiko investasi. Dengan manajemen risiko, Anda dapat mengambil tindakan responsif secara tepat. Tentunya, tindakan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi pasar.

Selain manajemen risiko, Anda juga harus mengendalikan diri dalam menentukan target (over target). Contoh tindakan over target, yakni menanamkan modal dengan mematok target pendapatan melebihi standar instrumen investasi.

Kesimpulannya, margin call adalah warning bagi investor, bahwa usahanya sedang berada di ujung tanduk. Jika Anda terlanjur mengalami hal tersebut, cobalah untuk mengambil langkah dengan pertimbangan matang.

Sebaliknya, bagi Anda yang baru mencoba ikut investasi, hindari margin call dengan menerapkan manajemen modal dan risiko secara maksimal.

Demikian ulasan singkat seputar margin call dalam dunia investasi. Anda ingin memiliki kebebasan finansial di masa depan? Ayo, sisihkan sebagian dana untuk berinvestasi mulai dari sekarang!

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Sebagai platform pengembangan dana yang optimal dengan bunga hingga 21% per tahun kamu dapat memulainya hanya dengan Rp100 ribu saja.

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]