Perbedaan Depresiasi dan Amortisasi

0
2603
Depresiasi dan Amortisasi

Akuntansi merupakan salah satu keterampilan yang perlu dimiliki setiap orang terlepas dari apa pun latar belakangnya. Tujuannya tidak lain adalah membantu setiap individu menjadi lebih terampil dan bijak dalam melakukan manajemen keuangan. 

Ranah kecakapan akuntansi yang dimiliki untuk kepentingan pribadi sehari-hari tentu tidak perlu sekompleks yang dimiliki oleh para akuntan maupun pihak profesional semacamnya dalam sebuah perusahaan. Adapun salah satu kemampuan fundamental yang perlu dimiliki adalah memahami beberapa istilah dasar dalam akuntansi seperti depresiasi dan amortisasi.

Depresiasi dan amortisasi merupakan proses akuntansi yang sama-sama menimbulkan efek penyusutan terhadap nilai aset. Kendati demikian, keduanya mempunyai  perbedaan konsep yang berbeda. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut.

Memahami Aktiva

Perbedaan depresiasi dan amortisasi terletak pada jenis aktivanya. Adapun definisi sederhana aktiva pada akuntansi adalah segala kekayaan yang dimiliki oleh perseorangan maupun perusahaan dan dapat diukur menggunakan satuan mata uang. Dalam kehidupan sehari-hari, aktiva lebih banyak dikenal dengan sebutan aset.

Pengelompokan aktiva berdasarkan wujudnya terbagi menjadi dua, yakni aktiva berwujud (disebut juga aktiva tetap) dan aktiva tidak berwujud (disebut juga aktiva tetap tidak berwujud). 

  • Aktiva Berwujud

Aktiva ini mempunyai bentuk fisik yang dapat diamati seperti tanah, bangunan, kendaraan, furnitur, dan sebagainya. 

  • Aktiva Tidak Berwujud

Sebaliknya, aktiva ini tidak mempunyai bentuk fisik. Aktiva tidak berwujud merupakan hak istimewa dan memiliki nilai tertentu. Beberapa contoh aktiva tidak berwujud adalah goodwill, hak paten, hak cipta, merek dagang, hak sewa, dan franchise.

Pengertian dan Contoh Depresiasi

Depresiasi adalah pengalokasian biaya penyusutan terhadap aktiva berwujud selama periode tertentu. Adapun periode tertentu yang dimaksud adalah rentang waktu yang diharapkan atas pemanfaatan aktiva tersebut.

Hal ini perlu dilakukan karena pada dasarnya nilai aktiva berwujud mengalami fluktuasi ketika dibeli dan ketika dijual atau tidak lagi digunakan. Penghitungan depresiasi akan berpengaruh terhadap laporan keuangan, termasuk di antaranya adalah penghasilan kena pajak suatu perusahaan.

Perhitungan depresiasi membutuhkan tiga komponen utama, yakni harga perolehan, taksiran umur ekonomis, dan taksiran nilai residu. Seperti contoh, Anda membeli sebuah bangunan sebesar Rp205.000.000,00 dan menjualnya 20 tahun kemudian. Adapun taksiran nilai residu mobil jenis tersebut adalah Rp5.000.000,00. Dengan demikian, besarnya depresiasi bangunan adalah :

= (Harga perolehan – Taksiran nilai residu) : Taksiran umur ekonomis

= (Rp205.000.000,00 – Rp5.000.000,00) : 20

= Rp200.000.000,00 : 20

= Rp10.000,00

Sebagai catatan, perhitungan depresiasi dapat dilakukan dengan berbagai metode. Contoh di atas merupakan perhitungan menggunakan metode garis lurus. Adapun kelemahan metode yang paling sederhana ini adalah anggapan bahwa kegunaan ekonomi aktiva setiap tahunnya adalah sama.

Pengertian dan Contoh Amortisasi

Amortisasi adalah penyusutan nilai aset tetap tidak berwujud selama periode tertentu (masa ekonomisnya) tanpa adanya nilai residu. Jika aktiva tidak berwujud mempunyai masa ekonomis yang tidak terbatas, maka amortisasi tidak perlu dilakukan.

Seperti contoh, perusahaan Anda berhasil mendapatkan hak paten atas penciptaan sebuah aplikasi. Adapun besarnya harga perolehan paten tersebut ialah sebesar Rp300.000.000,00 dan akan susut dalam jangka waktu 10 tahun. Dengan demikian, besarnya amortisasi hak paten per tahun adalah = Rp300.000.000,00 : 10 =Rp3.000.000,00

Amortisasi juga dapat didefinisikan sebagai cara pembayaran utang yang dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Permisalan paling sederhananya adalah pembayaran bulanan atas cicilan kendaraan, pinjaman KPR, KTA, dan sebagainya.

Baca juga: Ini 6 Langkah Mudah Menghitung Amortisasi

Selain depresiasi dan amortisasi, satu lagi istilah akuntansi terkait penyusutan adalah deplesi. Secara umum deplesi memiliki kesamaan dengan depresiasi, yakni menurunkan manfaat ekonomi atas suatu aktiva berwujud. Hanya saja, syarat objek aktiva yang dimaksud pada deplesi ialah bersifat tidak dapat diganti jika sudah habis seperti sumber daya alam (kayu hutan, bijih besi, dan sebagainya). Adapun istilah deplesi lebih banyak digunakan pada akuntansi perusahaan tambang.

Depresiasi dan amortisasi merupakan dua istilah akuntansi yang merujuk pada penyusutan nilai suatu aset. Adapun perbedaan mendasar antara depresiasi dan amortisasi terletak pada jenis aktivanya, yakni aktiva berwujud untuk depresiasi dan aktiva tidak berwujud pada amortisasi. 

Ajukan Pinjaman Sekarang dan Dapatkan Kemudahan Pinjaman Modal Usaha di Akseleran!

Dapatkan pinjaman dengan bunga kompetitif dan kemudahan proses pengajuan. Ajukan pinjaman untuk mengembangkan usahamu sekarang. Akseleran juga sudah terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin.

BLOG100

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau bisa via email [email protected]