Yield Curve: Penjelasan dan Contohnya

0
1562
Yield Curve Adalah

Obligasi merupakan salah satu jenis investasi dengan keuntungan cukup menggiurkan. Dalam obligasi, terdapat istilah penting, yakni yield curve, yang menjadi acuan dalam transaksi. Sebelum memulai investasi, berikut penjelasan lengkap mengenai yield curve. 

Pengertian Yield Curve

Yield curve adalah kurva yang menggambarkan imbal hasil dari satu atau beberapa obligasi pada berbagai tahun jatuh tempo. Biasanya dalam satu yield curve terdapat tiga jenis obligasi. Misalnya, investor memiliki obligasi dengan jangka waktu 1 tahun, 2 tahun dan 5 tahun. Keberadaan yield curve akan membantu investor untuk membandingkan berapa keuntungan yang didapatkan dari ketiga obligasi tersebut. 

Yield Curve berbentuk seperti kurva pada umumnya, yaitu tahun diletakkan pada sumbu mendatar (sumbu X). Sementara itu, ada sumbu tegak lurus (sumbu Y) yang menggambarkan besaran imbal hasil. 

Peranan Yield Curve

Salah satu peranan penting yield curve adalah menjadi acuan dalam proses transaksi di pasar obligasi. Misalnya, ketika akan menentukan tingkat bunga pinjaman dari bank. Bahkan lebih jauh, dari yield curve, investor bisa memprediksi bagaimana pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. 

Dibandingkan dengan pasar saham, pasar obligasi merupakan tempat awal untuk mengamati kondisi dalam dunia investasi. Para investor yang mampu melihat perubahan di pasar obligasi terbukti dapat bereaksi lebih cepat ketimbang mereka yang hanya menjadikan perubahan saham sebagai acuan. Terlebih lagi, hubungan antara saham dengan keadaan ekonomi makro terlalu lemah. Selain itu, kegunaan yield curve adalah menjadi patokan agar investor bisa menentukan harga beli obligasi yang sesuai.

Selanjutnya, yield curve juga bisa digunakan untuk memprediksi terjadinya resesi keuangan di masa mendatang. Para ekonom tidak asal saja meramalkan bagaimana masa depan ekonomi sebuah negara. Secara umum, terdapat tiga bentuk, yakni: 

  • Kurva Normal

Kurva normal dalam yield curve adalah mengindikasikan pergerakan garis yang miring ke atas. Ini menunjukkan imbal hasil obligasi terus mengalami peningkatan seiring berjalannya waktu. Memang sangat berisiko mengambil investasi obligasi jangka panjang karena suku bunga cenderung naik tiap tahunnya. 

  • Kurva Terbalik (Inverted)

Kurva terbalik menunjukkan kondisi imbal hasil terbalik atau miring ke bawah. Ini berarti imbal hasil dari obligasi jangka panjang akan terus menurun. Bila dalam yield curve ditemukan kondisi ini, kemungkinan besar di masa depan akan terjadi resesi. 

Baca juga: Ini 5 Indikator Mengapa Indonesia dapat Mengalami Resesi

  • Kurva Datar (Flat)

Kurva flat dapat muncul bila imbal hasil yang didapatkan oleh investor normal. Terjadinya kondisi ini sangat tergantung pada keadaan ekonomi suatu negara. Saat ekonomi tengah mengalami transisi, misalnya melambatnya pembangunan bahkan terjadi resesi, imbal hasil obligasi yang lebih lama akan makin menurun. Sementara itu, imbal hasil obligasi jangka pendek justru meningkat. Hal ini akan menyebabkan kurva normal menjadi kurva imbal hasil datar.

Ketika keadaan ekonomi negara sedang berada dalam masa pemulihan resesi, imbal hasil obligasi jangka panjang akan makin besar. Sementara itu, obligasi yang memiliki jatuh tempo lebih pendek imbal hasilnya akan menurun. Ini membuat kurva imbal hasil yang awalnya berbentuk terbalik, berubah menjadi datar. 

Cara Menghitung Yield Curve

Hal pertama yang harus dilakukan ketika hendak menghitung yield curve adalah mencari tahu profil obligasi yang dimiliki melalui situs IBPA dan KSEI. Di sana, Anda dapat menemukan data lengkap mengenai obligasi pemerintah dan obligasi korporasi. Data yang harus didapatkan meliputi tanggal transaksi, tanggal jatuh tempo, harga, redemption, frekuensi, dan basis. 

Terdapat tiga pendekatan untuk membentuk model dari yield curve. Yang pertama adalah pendekatan regresi. Di sini, investor akan menghitung yield yang diperoleh hingga tanggal jatuh tempo dari beberapa obligasi. Sayangnya, dalam metode ini tidak ada komponen kupon dalam perhitungan. Beberapa metode yang menggunakan pendekatan regresi di antaranya metode Bradley-Crane dan metode The Super-Bell. 

Selanjutnya, pendekatan kedua dalam menghitung yield curve adalah pendekatan empiris. Dalam pendekatan ini, imbal hasil dari kupon telah diperhitungkan. Beberapa metode yang menggunakan pendekatan ini, yakni metode McCulloch Cubic Spline, metode Nelson and Siegel, serta metode Nelson Siegel Svensson.

Terakhir adalah pendekatan yang disebut “Dynamic Asset Pricing Approach”. Dalam pendekatan ini, perhitungan yield curve menggunakan komponen waktu seperti yang terdapat dalam metode Vasicek.

Setelah mengetahui seluk beluk yield curve, jadikanlah acuan bila Anda ingin terjun dalam bidang investasi obligasi. Selamat mencoba. 

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Sebagai platform pengembangan dana yang optimal dengan bunga hingga 16% per tahun kamu dapat memulainya hanya dengan Rp100 ribu saja.

BLOG100 Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]