Ini 5 Indikator Mengapa Indonesia dapat Mengalami Resesi

0
167

Dalam perkembangan ekonomi makro, resesi adalah kondisi dimana saat produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan. Resesi juga dapat menyebabkan penurunan secara drastis pada seluruh aktivitas ekonomi contohnya lapangan kerja, keuntungan perusahaan dan investasi. Resesi atau kemerosotan juga selalu dikaitkan dengan turunnya harga (deflasi) atau meningkatnya harga (inflasi). Memang tak dapat dipungkiri bahwa bidang ekonomi ini memiliki peran yang cukup besar dalam perkembangan suatu negara. Karena, negara yang dikatakan maju adalah negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, hal ini dibuktikan dari nilai pendapatan nasionalnya dan nilai produk domestik bruto.

Namun, yang perlu dipahami adalah pencapaian pertumbuhan ekonomi ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal yang kita sendiri tidak dapat kendalikan. Oleh karena itu, ada waktunya saat perekonomian dalam suatu negara memiliki masa resesi.

Kapan Negara Dapat Dikatakan Memasuki Masa Resesi?

Dalam perekonomian dunia sendiri, banyak negara yang sempat merasakan masa-masa resesi. Terutama negara-negara di eropa pada rentang tahun 2008-2009 yang mengakibatkan tidak kurang dari 15 negara mengalami masa resesi. Beberapa negara seperti Yunani, Portugal, Spanyol, Irlandia, Italia hingga Perancis ini mengalami masa resesi di tahun 2008-2009. Tidak hanya di eropa, Thailand juga mengalami kemerosotan ekonomi di tahun 2010 yang menyebabkan produk domestik bruto Thailand akhirnya terus merosot.

Seperti yang sudah dibahas sedikit di atas, bahwa salah satu penyebabnya adalah pencapaian produk domestik bruto yang rendah karena pasar modal dunia menolak perusahaan-perusahaan dari Rusia. Akibatnya, tingkat inflasi yang cukup tinggi bahkan negara mengalami defisit anggaran.

Dari beberapa contoh di atas, resesi ekonomi tidak hanya dirasakan negara berkembang, namun negara maju di eropa juga mengalami hal tersebut. Beberapa pengamat justru memprediksi Indonesia sedang mengarah pada resesi. Pengamat menilai bahwa hal-hal seperti nilai impor yang lebih besar dibandingkan ekspor, harga-harga barang komoditas yang semakin mahal dan beberapa hal lainnya inilah yang menjadikan dasar prediksi bahwa Indonesia telah memasuki masa resesi ekonomi.

Landing Page Ebook

Namun, ini masih sebatas prediksi dari pengamat. Di sisi lain Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil di angka 5%. Lalu, apa saja sih yang menjadi indikator suatu negara mengalami masa resesi? Ini beberapa indikatornya:

  • Ketidakseimbangan Antara Produksi dengan Konsumsi

Berbicara mengenai ekonomi tentu tidak akan lepas dari produksi dan konsumsi. Kedua hal tersebut adalah dasar pertumbuhan ekonomi. Di saat produksi dan konsumsi tidak seimbang, maka siklus ekonomi akan mengalami masalah. Apabila produksi rendah sedangkan konsumsi tinggi, maka kebutuhan akan meningkat dan menyebabkan pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan impor. Hal tersebut juga yang dapat membuat penurunan laba perusahaan sehingga berpengaruh pada lemahnya pasar modal.

  • Pertumbuhan Ekonomi Lambat Bahkan Merosot

Dalam aturan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi digunakan sebagai sebuah ukuran untuk menentukan kondisi ekonomi dalam suatu negara. Apabila pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan yang cukup signifikan, artinya negara tersebut dalam kondisi ekonomi yang baik. 

Pertumbuhan ekonomi ini menggunakan acuan produk domestik bruto yang merupakan hasil dari penjumlahan konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi dan ekspor yang dikurangi impor. Apabila produk domestik bruto mengalami penurunan dari tahun ke tahun, maka dipastikan pertumbuhan ekonomi dalam sebuah negara mengalami kemerosotan atau yang kita kenal resesi.

  • Nilai Impor Lebih Besar Dibandingkan Nilai Ekspor

Kegiatan ekspor impor adalah hal wajar bagi sebuah negara. Selain untuk menjalin kerjasama antar negara, tujuan dari kegiatan ini juga untuk memenuhi kebutuhan penduduk dalam suatu negara. Negara yang kekurangan komoditas karena tidak dapat memproduksi sendiri, dapat melakukan impor barang dari negara lain. Sebaliknya, negara yang memiliki kelebihan produksi tentu akan melakukan ekspor ke negara yang membutuhkan komoditas tersebut.

Hanya yang perlu diperhatikan adalah kestabilan dari ekspor impor ini. Karena, nilai impor yang lebih besar dibandingkan nilai ekspor berisiko pada defisit anggaran suatu negara.

  • Terjadi Inflasi dan Deflasi yang Tinggi

Inflasi memang kerap kali memberikan hal positif yang kadang dibutuhkan. Namun, inflasi yang terlalu tinggi juga dapat mempersulit kondisi ekonomi, karena meningkatnya harga komoditas yang akhirnya tidak dapat dijangkau oleh masyarakat. Kondisi ini semakin diperparah jika inflasi tidak diikuti dengan daya beli masyarakat yang tinggi. 

Tidak hanya inflasi, namun deflasi juga dapat berdampak pada resesi. Di mana harga komoditas yang menurun drastis dapat mempengaruhi tingkat pendapatan dan laba perusahaan yang rendah. Karenanya, biaya produksi tidak dapat menutup dan menyebabkan volume produksi menjadi rendah.

  • Tingkat Pengangguran yang Tinggi

Tenaga kerja menjadi salah satu faktor produksi yang memiliki peranan penting dalam menggerakkan perekonomian. Apabila suatu pemerintahan tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, maka jelas tingkat pengangguran akan terus meningkat. Selain itu dengan peningkatan pengangguran yang terus melonjak, dapat menyebabkan daya beli yang rendah sehingga memicu tindak kriminal.

Cegah Resesi dengan Mengurangi Beban UKM Lewat Pendanaan di Akseleran!

BLOG100

Akseleran Apps

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan langsung bisa juga menghubungi (+62811-9300443) atau untuk pinjaman dana usaha kamu bisa menghubungi (+62812-9799-7917) dan (+62811-1312-309) atau bisa via email [email protected]eleran.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here