Resesi 2020: Adaptasi Rencana Keuangan di Masa Sulit

0
891

Pada tanggal 5 November 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terkait Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III/2020 berada di posisi minus 3,49 persen. Angka tersebut sebenarnya peningkatan setelah PDB Indonesia berada di angka minus 5,32 persen pada kuartal II/2020. Biarpun demikian, melalui pernyataan tersebut secara resmi Indonesia dinyatakan dalam keadaan resesi. Lalu, apa dampaknya bagi kita?

Apa Itu Resesi? Apa Indikasinya?

Resesi dapat disimpulkan sebagai penurunan secara drastis pada seluruh aktivitas ekonomi yang dapat diindikasikan melalui PDB atau Produk Domestik Bruto, lebih spesifik PDB Riil, yaitu perhitungan PDB tanpa inflasi. PDB riil inilah indikator utama terjadinya resesi. 

pertumbuhan ekonomi indonesia kuartal 3 2020

(sumber:https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/11/05/1738/ekonomi-indonesia-triwulan-iii-2020-tumbuh-5-05-persen–q-to-q-.html)

Ketika tingkat pertumbuhan PDB Riil pertama kali berubah menjadi negatif dalam satu kuartal, maka itu dapat dikatakan sebagai tanda akan terjadinya resesi. Namun, pertumbuhan PDB yang negatif dalam satu kuartal masih dapat berubah menjadi positif pada kuartal berikutnya. Jika perlambatan pertumbuhan PDB riil tersebut berlangsung selama dua kuartal berturut-turut, maka secara resmi terjadi resesi.

Dampak Langsung Resesi

Resesi yang sudah di depan mata membuat banyak orang menebak-nebak apa dampak nyata yang akan timbul. Karena itu, perlu dimengerti beberapa dampak yang akan terjadi dan akan dirasakan saat resesi:

mall yang sepi indikasi resesi 2020

  • Banyak Bisnis yang Tumbang

Pada Agustus lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mengatakan bahwa belum ada tanda pola konsumsi masyarakat yang membaik, hal ini tentu berhubungan dengan pendapatan masyarakat yang terus menurun sehingga daya beli pun ikut menurun. Hal ini disebabkan oleh tingkat pengangguran meningkat akibat adanya pandemi COVID-19.

Dengan penurunan daya beli ini tentu juga akan berdampak kepada pelaku bisnis. Sehingga apabila kita berjualan, tentu pembeli juga akan sedikit karena daya beli masyarakat yang menurun dan tentunya juga berimbas kepada keuntungan pebisnis yang menurun.

Dengan kondisi pendapatan yang tidak optimal dalam jangka waktu yang tidak pendek, maka banyak bisnis yang mau tidak mau harus gulung tikar.

dampak resesi kehilangan pekerjaan

  • Menghilangnya Sumber Pendapatan dan Lapangan Pekerjaan

Dengan banyaknya bisnis yang tumbang, secara langsung lapangan pekerjaan pun secara langsung berkurang. Dengan tingkat pengangguran yang tinggi ini, tingkat pendapatan masyarakat menurun, sehingga daya beli pun menurun (poin di atas). Akibatnya semakin banyak juga bisnis-bisnis lain yang tumbang dan semakin banyak juga yang kehilangan pekerjaan.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan bahwa dampak dari resesi yang akan dirasakan adalah sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan. Hal ini dikarenakan banyaknya aktivitas atau kegiatan ekonomi yang belum berjalan normal kembali.

Rosan P Roeslani sebagai ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga mengatakan bahwa adanya risiko dari resesi tentu akan membuat jumlah pengangguran di Indonesia meningkat hingga 5 juta orang.

Hal yang Harus Dipersiapkan Sekarang

memperbaiki keadaan finansial saat resesi

Melemahnya ekonomi bukan berarti keuanganmu juga harus ikut melemah. Beberapa cara bisa dilakukan agar keuanganmu tetap terjaga selama resesi ini berlangsung. Ada beberapa hal di bawah ini yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi resesi:

  • Mempersiapkan Dana Darurat

Hal inilah yang paling penting kamu siapkan untuk menghadapi resesi, karena dana darurat sangat, sangat membantu jika kamu terkena dampak dari pengurangan lapangan kerja. Dana darurat yang kamu persiapkan minimal 6 sampai 12 kali pengeluaran bulanan. Namun, ingat kembali bahwa sesuai dengan namanya, yaitu dana darurat, kamu hanya dapat menggunakannya disaat memang betul-betul dalam keadaan atau kepentingan darurat saja.

  • Mempersiapkan Income Stream Lain

Perlu diingat bahwa dampak resesi ini belum tentu akan teratasi atau berakhir dalam waktu dekat. Karena, tidak ada yang benar-benar ‘aman’ saat resesi ini terjadi, itu juga berlaku kepada pekerjaan yang sedang kamu geluti.

Karena itu, sebagai langkah preventif kamu dapat mulai mencari usaha sampingan atau mencari pendapatan sampingan lainnya di luar dari pekerjaan yang sedang kamu jalani saat ini.

tips menghadapi resesi dengan mengurangi pengeluaran

  • Mengurangi Pengeluaran

Adanya resesi ini tentu akan mempersulit keadaan kita untuk melakukan pembelian suatu barang atau penggunaan jasa, terutama jika sumber pendapatan berkurang atau menghilang.

Sebaiknya kita membatasi pengeluaran hanya untuk kebutuhan yang sifatnya primer saja. Hindari juga pengambilan cicilan baru seperti KPR atau cicilan kendaraan bermotor.

  • Tetap Berinvestasi Namun Lebih Berhati-hati

Saat resesi bukan berarti berhenti berinvestasi. Karena perlu diingat bahwa investasi memiliki tujuan jangka panjang. Namun perlu diwaspadai tingkat risiko dari instrumen investasi yang dipilih. Saat resesi bukanlah saat yang tepat untuk mengambil risiko besar dalam investasi.

Tejasari Assad selaku perencana keuangan dari Tatadana Consulting mengatakan bahwa di tengah resesi, investasi yang bisa dipilih adalah investasi yang bernilai tinggi tapi sedang turun harganya seperti properti atau saham. Pasalnya, pada saat resesi nilai-nilai aset menurun sehingga bisa menjadi waktu yang tepat untuk membeli aset baru. Pada saat investor lain akan menjual aset-aset mereka, kita bisa mengambil kesempatan ini untuk membeli aset-aset yang harganya lebih murah.

Menurut Agustina Fitria, Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning, yang semakin penting saat resesi adalah diversifikasi portofolio. Artinya, tak semua dana investasi ditaruh ke dalam satu kolam investasi. Melalui diversifikasi, nilai aset investasi kamu akan relatif lebih sehat dibandingkan mereka yang tidak melakukan diversifikasi.

recover dari resesi

Menyiasati Investasi Selama Resesi

  • Diversifikasi ke Investasi Jangka Pendek

Alasan kenapa diversifikasi ke investasi jangka pendek dianjurkan saat menghadapi resesi adalah supaya kamu tetap memiliki aset yang likuid, karena pada saat resesi cash is king

Dengan mengalokasikan dana ke instrumen investasi jangka pendek, kamu bisa tetap mengembangkan dana dan mendapatkan return dalam waktu relatif cepat, tanpa harus mengorbankan likuiditas dari keuanganmu.

memilih investasi jangka panjang atau jangka pendek

  • Jumlah Modal Awal Yang Fleksibel

Selain jangka waktu yang pendek, jumlah modal minimal yang diperlukan suatu instrumen juga menjadi pertimbangan dalam memilih jenis investasi selama masa resesi.

Karena jika kamu memilih instrumen dengan modal awal yang besar apalagi ditambah waktu proses pencairan yang tidak cepat, maka kesehatan cash flow-mu bisa terancam di saat kamu memerlukan cash. Ingat kembali bahwa selama masa resesi, cash is king.

  • Keuntungan Yang Tidak Fluktuatif

Secara garis besar, strategi dalam pemilihan instrumen investasi pada saat-saat resesi adalah mengutamakan fleksibilitas, likuiditas, dan stabilitas. Karena itu, pemilihan instrumen yang memiliki keuntungan yang tidak fluktuatif dari hari ke hari juga bisa menjadi konsiderasi. Karena jika suatu hari kamu ingin mencairkan aset tersebut, akan disayangkan jika keuntungan pada hari tersebut sedang turun.

mencari investasi stabil

Pilihan Investasi Saat Resesi

Dari ketiga ciri investasi yang dianjurkan di atas, adapun beberapa pilihan instrumen yang memiliki ketiga kriteria tersebut, antara lain: reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, atau obligasi negara (SBR atau ORI). Pilihan investasi tersebut memiliki kesamaan, yaitu portofolio yang terdiri dari atau didominasi oleh instrumen obligasi (surat pernyataan utang).

Beberapa pilihan instrumen di atas selain memiliki tenor yang relatif singkat, modal awal yang diperlukan pun tergolong minimum ditambah dengan keuntungan yang relatif stabil dari hari ke hari. Jika sewaktu-waktu kamu perlu mencairkan uangmu, kamu bisa melakukannya tanpa perlu membayar denda karena pencairan lebih awal*.

pilihan investasi

*Rata-rata SBN memiliki fitur early redemption (pencairan lebih awal), sedangkan ORI dapat dipindahbukukan kepemilikannya setelah holding period yang ditentukan.

P2P Lending Sebagai Alternatif Pengembangan Dana

Salah satu  pilihan instrumen pengembangan dana yang memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan di atas adalah Peer-to-peer (P2P) Lending. P2P Lending adalah debt-based instrument, jadi kamu bisa mengembangkan dana sebagai lender (pemberi pinjaman) dengan memberikan pinjaman kepada borrower (peminjam) untuk mendapatkan interest rate dari pinjaman tersebut.

diagram penjelasan apa itu p2p lending

Mengembangkan dana di P2P Lending tergolong jangka pendek, karena tenor pinjamannya berkisar rata-rata 3 bulan. Bahkan ada pinjaman yang memiliki tenor 14 hari saja. Secara nominal pun, rata-rata platform P2P Lending menawarkan pendanaan awal antara Rp100 ribu sampai Rp1 juta.

Dari sisi interest rate atau yield yang didapatkan oleh Lender tergolong tidak fluktuatif dari hari ke hari, karena penentuan bunga yang diberikan tergantung dari kesepakatan awal (agunan, nilai pinjaman dan sebagainya) antara platform P2P Lending dan borrower.

Secara prinsip, P2P Lending mudah dimengerti karena sifatnya pinjam-meminjam dengan interest. Maka dari itu, bagi orang yang belum berkecimpung lama di dunia investasi pun bisa mencoba P2P Lending tanpa perlu belajar terlalu lama mengenai instrumen ini.

Namun, sebagai instrumen pengembangan dana, P2P Lending tidak lepas dari risiko. Sebagai lender, harus berhati-hati dalam memberikan pinjaman karena ada risiko telat atau gagal bayar. Sangat disarankan lender P2P Lending untuk mengetahui dan mengerti profil dari peminjam sebelum memberi pinjaman.

Mencari P2P Lending yang Relatif Aman

  • P2P Lending Pinjaman Produktif 

Secara umum, P2P Lending terbagi dua tipe, yaitu pinjaman produktif dan pinjaman konsumtif. Pinjaman produktif berarti peminjamnya adalah perusahaan yang membutuhkan modal untuk memulai, mengembangkan atau menjalankan modal usaha. Sedangkan borrower pinjaman konsumtif adalah perseorangan yang membutuhkan uang untuk kegiatan konsumtif.

Secara umum, P2P Lending produktif memiliki tingkat risiko yang lebih rendah, karena dana yang dipinjamkan akan digunakan untuk menghasilkan uang lagi. Namun, tidak semua P2P Lending produktif lepas dari risiko. Jenis industri dari si peminjam menjadi pertimbangan penting, karena tidak semua industri bisa bertahan di saat-saat resesi.

Selain itu, jenis pinjaman produktif yang ditawarkan pun memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda. Salah satu contoh jenis pinjaman produktif yang relatif rendah risiko adalah invoice financing.

Melalui invoice financing, peminjam adalah perusahaan yang membutuhkan uang untuk menjaga cash flow untuk keperluan operasional sambil menunggu pembayaran dari sebuah invoice. Karena prinsipnya hanya menunggu waktu pembayaran saja, kemungkinan gagal bayar tergolong kecil.
diagram penjelasan apa itu invoice financing

  • Pilih yang Resmi Diawasi oleh OJK

Selain profil peminjam yang perlu diperhatikan, profil dari platform P2P Lending yang menghubungkan lender dan borrower juga menentukan seberapa aman pendanaanmu.

Mungkin kamu sering mendengar kasus investasi online bodong dari fintech-fintech di Indonesia. Hal ini dikarenakan masih ada fintech-fintech ilegal yang beroperasional. Pasalnya, dari sekian banyak platform P2P Lending, baik yang menyediakan P2P Lending produktif maupun konsumtif, hanya sebagian saja yang diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk mendapatkan status terdaftar ataupun berizin dari OJK pun tidaklah mudah, karena membutuhkan proses yang panjang.

Akseleran, P2P Lending Berizin Resmi OJK

tim manajemen akseleran

Salah satu platform P2P Lending di Indonesia yang berizin resmi dan diawasi OJK adalah Akseleran. Sebagai platform P2P Lending, Akseleran memiliki kelebihan berikut: 

  • Akseleran telah terdaftar dan berizin dari OJK berdasarkan Keputusan OJK KEP-122/D.05/2019 pada tanggal 13 Desember 2019.
  • Bunga yang akan didapatkan dari pemberian pinjaman di Akseleran bisa hingga 16% per tahun.
  • P2P Lending Akseleran menyediakan platform pengembangan dana dengan tenor jangka pendek mulai dari 1 bulan hingga 12 bulan.
  • Mayoritas peminjam (borrower) di Akseleran adalah UKM yang sudah berjalan lebih dari 1 tahun.
  • Secara langsung kamu membantu UKM untuk dapat mengembangkan usahanya dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
  • Sebagian besar pinjaman di Akseleran berbentuk invoice financing yang sudah jelas sumber pembayarannya, juga disertai dengan proteksi asuransi jika terjadi gagal bayar.
  • Kamu dapat memulai pengembangan dana kamu hanya mulai dari Rp100 ribu saja.

Jadi, jika kamu tertarik untuk membantu UKM di Indonesia sekaligus mengembangkan dana dalam jangka waktu yang relatif pendek, bisa mencoba melakukan pendanaan di P2P Lending Akseleran.

Kamu bisa menggunakan kode promo AKSELERASI100 untuk mendapatkan dana awal sebesar Rp100 ribu. Untuk mendapatkannya, cukup download aplikasi Akseleran di Google Play atau App Store dan daftarkan dirimu.

kode promo akseleran akselerasi100

Syarat dan ketentuan, kamu dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected].