Potret Belajar Online dari Rumah

1
1167

Pembatasan fisik (physical distancing) untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 berdampak pada kebijakan belajar mengajar. Pemerintah meminta anak-anak belajar dari rumah, namun dalam pelaksanaan belajar dari rumah tak jarang menyisakan masalah baru bagi para orang tua. Banyak orang tua yang kerepotan seperti banyaknya tugas yang diberikan oleh sekolah, adanya salah penafsiran orang tua dan guru mengenai belajar di rumah dan lain sebagainya.

Tak jarang orang tua mengeluh bahwa pihak sekolah terkesan hanya memindahkan proses pembelajaran dari kelas ke rumah. Pemberian materi dan tugas yang diberikan melalui daring atau secara online, kuota internet dan kecepatan jaringan internet pun menjadi masalah utama.

Harris Iskandar, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal PAUD dan Dikdasmen Kemendikbud mengatakan, konsep awal belajar dari rumah adalah proses pembelajaran di rumah yang seharusnya seorang guru dan orang tua diharapkan dapat mewujudkan pendidikan yang bermakna, tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik atau kognitif. “Harus disampaikan ke anak sehingga dia paham. Jangan hanya tugas melulu. Berikan pendidikan yang bermakna, termasuk kecakapan hidup dan pemahaman mengenai pandemik Covid-19” ujar Harris seperti dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Apa Kata Orang Tua?

Pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah diubah menjadi di rumah menuntut orang tua atau meminta tolong saudara untuk membantu mengawasi proses belajar anak selama berada di rumah.

Meski anak bisa terpantau dan bisa meminimalisir penyebaran Covid-19, proses belajar mengajar di rumah bukanlah sesuatu yang mudah bagi para orang tua.

Syaki seorang Pegawai Negeri Sipil asal Lhokseumawe mengaku, proses belajar mengajar dari rumah memiliki suka duka. Sukanya adalah bisa terus bersama sang buah hati namun kadang dukanya adalah anak menjadi sasaran amarah, maklum pola didik orang tua dengan seorang guru berbeda. Mengingat di waktu bersamaan, orang tua juga memiliki tekanan dalam pekerjaan namun harus berbagi waktu dan pikiran dengan sang buah hati saat proses belajar, berbeda dengan seorang guru yang memang waktu dan pikiran untuk mendidik anak belajar.

Kendala lain yang dirasakan adalah terkait jaringan internet. Di daerah tempat tinggal pria yang akrab disapa Syaki ini tepatnya di Lhokseumawe, menurutnya kecepatan jaringan internet tidak sebagus di Jawa, belum lagi paket-paket internet yang ditawarkan bisa dikatakan cukup mahal. Sehingga dirinya harus menyisihkan sebagian anggaran bulanannya untuk membeli paket internet.

Syaki berharap, proses belajar mengajar dari rumah atau online ditiadakan meski dirinya mengaku tujuan belajar dari rumah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, tetapi semoga semua kembali normal seperti sebelum adanya Covid-19.

Baca Juga:
Kerja dari Rumah vs Kerja dari Kantor
Edisi New Normal, Pasca Pembukaan Mal di Indonesia
Rapor Hijau Akseleran di Semester Pertama 2020

Revi Yohana seorang Pegawai Negeri Sipil mengaku harus pintar bagi waktu antara pekerjaan dan belajar anak, karena jika tidak akan menjadi beban yang berlipat ganda.

Proses belajar di rumah memiliki suka duka, Wanita yang berkantor di Jalan Medan Merdeka Barat ini merasa bisa lebih terlibat atau memberikan “peran” tambahan dalam proses belajar mengajar anak, sehingga dirinya bisa semakin mengetahui perkembangan anak bahkan melihat minat anak dalam belajar seperti apa? Meski menyenangkan karena mengetahui tumbuh kembang anak, tetapi sebagai ibu bekerja harus bisa bagi waktu.

Revi menyayangkan kebijakan biaya sekolah, yang mana uang sekolah tempat anaknya menimba ilmu tetap saja tinggi karena pihak sekolah tidak memberikan keringanan padahal beban mengajar sebenarnya jadi lebih banyak di orang tua, ditambah lagi biaya paket untuk zoom online yang juga menguras kantong.

Seperti cerita Syaki, kemampuan proses mendidik anak oleh orang tua dan seorang guru berbeda. Ini juga yang dikeluhkan Revi, sehingga terkadang tingkat kesabaran harus lebih ekstra.

Meski memaparkan keluhan yang dialaminya, Revi memiliki tips untuk menghadapinya. Dirinya terus belajar meningkatkan kemampuan manajemen waktu dan konsultasikan dengan pengajar atau pihak sekolah perihal kendala-kendala yang dialami, baik perihal pelajaran ataupun cara mengajar anak.

Revi berharap, belajar online tidak dilakukan permanen karena menurutnya anak-anak sangat butuh bersosialisasi, sangat butuh mengenal lingkungan di luar rumahnya tapi tetap terjaga, untuk mengakomodir itu ya di sekolah solusinya. Sekolah online hanyalah antisipasi kondisi darurat seperti sekarang ini, sehingga jika dikemudian hari diperlukan kembali sekolah online infrastruktur jaringan juga sudah sangat baik. Mengingat saat ini jaringan internet tidak stabil, belum lagi harga paket internet yang bisa dikatakan cukup mahal.

Sama halnya dengan Syaki dan Revi, proses belajar dari rumah diakui Novi sangat menguras kesabaran. “Stock sabar harus lebih banyak lagi” candanya kepada Akseleran.

Novi seorang karyawan swasta di Jakarta mengaku memiliki suka duka, sukanya adalah bonding dengan anak menjadi lebih baik dan tenang karena belajar di rumah daripada di sekolah yang kemungkinan akan tertular Covid-19, mengingat jika di sekolah akan banyak bertemu orang. Sementara dukanya adalah belajar menjadi tidak optimal karena hanya melalui sambungan telepon dan tidak ada interaksi fisik dengan teman maupun guru bahkan waktu belajar juga sangat terbatas yakni maksimal 2 jam setiap harinya karena anak merasa cepat bosan.

Kendala yang dialami Novi sama dengan Revi maupun Syaki, yakni kuota membengkak biaya internet pun membludak. Tidak hanya itu, bahkan terkadang rebutan laptop jika jadwal belajar online berbarengan karena Novi memiliki dua anak yang keduanya sama-sama belajar online.

Novi berharap Covid-19 segera berakhir sehingga bisa segera normal kembali karena dirinya merasa kasihan dengan anak-anak yang mulai jenuh di rumah terus.

Bagaimana dengan pola mengasuh atau belajar mengajar anak Sobat dari rumah? Apakah mengalami hal yang sama? Kita semua berharap Covid-19 segera berakhir dan kita bisa beraktivitas normal seperti sebelum adanya Covid-19.

Keep Healthy and Keep Fighting for Covid-19.

Daftar sekarang dan dapatkan imbal hasil hingga 21% per tahun di Akseleran

Akseleran memberikan saldo awal senilai Rp 100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode CORCOMMBLOG. Melakukan pendanaan di Akseleran juga sangat aman karena lebih dari 98% nilai portofolio pinjamannya memiliki agunan. Sehingga dapat menekan tingkat risiko yang ada. Akseleran juga sudah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor surat KEP-122/D.05/2019 sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin.

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau bisa via email [email protected]

1 COMMENT

Comments are closed.