Tantangan Biaya Pendidikan Anak di New Normal

0
2107
Belajar Online dari Rumah - sumber photo: www.tempo.co

“uang pangkal sekolah naik 10%-15% per tahun”

Pandemi Covid-19 telah merubah struktur dunia pendidikan di Indonesia meski sudah memasuki era new normal karena sistem kegiatan belajar mengajar pun tetap dilakukan secara online. Belajar dari rumah secara online ternyata tak serta merta membuat biaya pendidikan mengalami penyesuaian. Maka, tantangan pendidikan di new normal tidak hanya pola orang tua mengajar anak di rumah melainkan juga biaya pendidikan.

Tingginya biaya pendidikan, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) karena sektor pendidikan mengalami inflasi yang mencapai 3,81%. Khusus kenaikan rata-rata uang pangkal pendidikan di Indonesia mencapai 10%-15% per tahunnya. BPS pun mencatat biaya pendidikan menjadi salah satu pengeluaran terbesar bagi masyarakat.

Merangkum beberapa sekolah dalam negeri yang menggunakan kurikulum internasional, saat ini rata-rata biaya untuk uang muka sekolah mulai dari Taman Bermain hingga SMA sederajat mulai dari Rp8 juta hingga Rp40 juta bahkan mungkin bisa lebih mahal dari itu. Biaya tersebut belum termasuk biaya bulanan.

Meski biaya pendidikan terus mengalami peningkatan, Yunita Rusanti selaku Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS mengatakan, dalam perhitungan inflasi, kenaikan inflasi pendidikan mayoritas terjadi pada sekolah swasta sementara untuk sekolah negeri cenderung deflasi.

Mengutip artikel Potret Belajar Online dari Rumah, belajar dari rumah secara online, orang tua pun mengeluhkan adanya biaya tambahan seperti membayar aplikasi untuk belajar online dan kuota internet bahkan jaringan internet yang tidak stabil.

Sementara berdasarkan dokumen yang dikeluarkan oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) berjudul Plan for School Reopening dijelaskan, terdapat tiga unsur utama yang harus dipertimbangkan dalam persiapan pembukaan kembali sekolah, yakni finansial, infrastruktur, dan sumber daya manusia.

Penjelasan dokumen tersebut adalah:

  1. Perlu adanya evaluasi anggaran pendidikan sesuai dengan temuan-temuan masalah pendidikan di masa pandemi ini, serta mempertimbangkan segala potensi yang akan muncul akibat dari masa pandemi ini.Memastikan gaji para guru serta tenaga kependidikan telah diberikan, serta pihak sekolah memiliki biaya operasional tambahan untuk mengantisipasi masalah yang akan muncul ketika sekolah dibuka kembali.Biaya operasional ini termasuk pengadaan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan guru serta pemberian materi tambahan kepada para siswa yang tertinggal dari segi kemampuan dan keterampilan.

    Pemerintah perlu berdiskusi dengan otoritas kesehatan terkait protokol kesehatan dan lingkungan sekolah yang bersih. Serta pemerintah harus mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat bahwa lingkungan sekolah aman dari wabah.

  2. Pemerintah sesegera mungkin mengatur mobilisasi para guru serta memprioritaskan daerah yang terdampak paling parah dari pandemi ini. Pemerintah harus mampu mengeksplorasi beberapa daerah yang memiliki tingkat kematian tertinggi akibat pandemi ini. Karena secara tidak langsung hal ini akan menyebabkan masalah baru yaitu kekurangan guru di beberapa daerah.Baca Juga:
    Perencanaan Keuangan untuk Mahasiswa
    Special Guest: Lender ini Raih Total Pendapatan Bunga Bersih 182 Juta
  3. Solusi lain yang dapat diberikan terhadap tantangan di sektor pendidikan di era new normal ini adalah bahwa pemerintah harus merancang sebuah pemetaan untuk mengatasi  ketimpangan kemampuan antar siswa. Pemerintah harus menjamin keselamatan peserta didik dari segi pencegahan penularan virus jika sekolah dibuka kembali.

Semoga dokumen UNESCO tersebut mampu mendorong pemerintah untuk terus berperan aktif, karena peran negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sangat penting dalam menangani Covid-19 termasuk mengaplikasi kebijakan pendidikan. Harapan lainnya, semoga pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga semua aktivitas bisa kembali pulih.

Sobat, untuk menyiasati biaya pendidikan anak yang terus mengalami peningkatan, yuk mulai kembangkan dana di Akseleran dari sekarang! Jika menurut BPS tingkat inflasi biaya uang pangkal sekolah meningkat 10%-15% per tahun, tetapi mengembangkan dana di Akseleran mendapatkan imbal hasil hingga 21% per tahun, artinya masih memiliki keuntungan lebih.

Mengembangkan dana di Akseleran tak perlu khawatir, karena Akseleran sudah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memiliki asuransi kredit dan hampir 98% pinjaman memiliki agunan.

Daftar sekarang dan dapatkan imbal hasil hingga 21% per tahun di Akseleran

Akseleran memberikan saldo awal senilai Rp 100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode CORCOMMBLOG. Melakukan pendanaan di Akseleran juga sangat aman karena lebih dari 98% nilai portofolio pinjamannya memiliki agunan. Sehingga dapat menekan tingkat risiko yang ada. Akseleran juga sudah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor surat KEP-122/D.05/2019 sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin.

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau bisa via email [email protected]