Kerja dari Rumah vs Kerja dari Kantor

1
1700

Kamu masuk kelompok yang mana?

Upaya menekan risiko penyebaran Covid-19, banyak perusahaan memberlakukan kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH) bagi karyawannya. Hal ini sesuai dengan imbauan pemerintah untuk mengisolasi diri dan membatasi kegiatan di luar rumah. Kerja dari rumah memang memiliki waktu yang lebih fleksibel, tak perlu menghabiskan waktu di perjalanan karena macet atau bahkan tak repot memikirkan penampilan.

Semenjak diberlakukan era tatanan baru, beberapa perusahaan pun mulai mempertimbangkan untuk kerja dari kantor, ada yang memberlakukan shifting kerja dari kantor 3 (tiga) hari dan kerja dari rumah 2 (dua) hari bahkan ada yang kerja di kantor seminggu penuh.

Terkait kebijakan tersebut, beberapa karyawan menuturkan komentar yang beragam perihal kebijakan kerja dari rumah maupun kerja dari kantor. Seperti apa? Berikut komentar mereka.

Handy Sunjaya, berprofesi sebagai Data Engineer
Semenjak Indonesia dinyatakan terdeteksi pandemi Covid-19 awal Maret 2020, selang 2 minggu kemudian perusahaan tempatnya bekerja memberlakukan kerja dari rumah hingga saat ini. Sejak itu, dirinya memiliki waktu lebih banyak untuk bekerja, artinya jam kerja lebih panjang dan semakin produktif. Menurut Handy, dirinya tidak perlu menyisihkan waktu perjalanan pergi dan pulang kantor, mengingat perjalanan dari rumah ke kantor maupun sebaliknya memerlukan waktu yang tidak sedikit, belum lagi jika terkena macet.

Selain itu, Handy merasa memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dan bisa makan kapan saja, hanya perlu membuka lemari es atau menuju meja makan jika lapar saat bekerja. Berbeda jika kerja dari kantor meski mendapat ransum atau makan siang dari kantor, terkadang perlu mengeluarkan uang ketika ingin ngemil atau jajan. Sehingga menurut Handy, bekerja dari rumah jauh lebih hemat karena tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi maupun jajan bersama teman-teman.

Meski dirasa lebih menyenangkan bekerja dari rumah, tetapi ada beberapa hal pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan secara maksimal, salah satunya ketika koordinasi dengan tim karena hanya bisa dalam bentuk virtual. Maklum saja, selama ini terbiasa komunikasi langsung, namun tiba-tiba “dipaksa” untuk puas dengan komunikasi secara virtual sehingga terasa ada yang kurang.

Tasya Azhari, berprofesi sebagai Human Capital
Wanita yang biasa dipanggil Tasya ini bekerja shifting dengan jadwal maksimal 3 (tiga) hari kerja dari kantor dan 2 hari kerja dari rumah. Menurutnya, kerja dari rumah lebih secure karena tidak bertemu orang luar, sehingga protokol kesehatan yang ia jalani untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 bisa berjalan maksimal. Selain itu, kerja dari rumah tidak memakan waktu di perjalanan untuk ke kantor maupun perjalanan pulang dari kantor.

Di sisi lain, ketika kerja dari kantor kelebihannya adalah bisa berkoordinasi dengan tim atau karyawan lain lebih mudah dan cepat, distraksi lebih kecil karena tidak ada orang rumah dan koneksi internet stabil.

Selama menjalani jam kerja yang shifting, dirinya mengaku jika kerja dari rumah waktunya lebih fleksibel, dekat dengan keluarga, tidak perlu ongkos ke kantor, tidak perlu wasting time di perjalanan menuju kantor. Sementara ketika kerja dari kantor, koordinasi dengan tim lebih baik atau engagement lebih baik, lebih fokus untuk pekerjaan.

Menurut Tasya, kerja dari rumah maupun kerja dari kantor biaya yang dikeluarkan sama saja, karena jika kerja dari rumah dirinya tetap beli makanan mengingat tidak sempat untuk memasak di rumah. Sementara jika kerja dari kantor, dirinya perlu mengeluarkan biaya transportasi.

Wulan Handayani, berprofesi sebagai Digital Marketing
Wulan menjalani kerja dari rumah sudah hampir 4 bulan, dirinya mengaku masih menjalankan protokol kesehatan yang ketat meski tempatnya bekerja sudah mempersilakan karyawan untuk kerja di kantor. Alasan lainnya cukup menarik, yakni minim mobilitas, tidak perlu pusing melihat jalanan macet, hemat make up, bisa kerja menggunakan baju tidur/daster bahkan sesekali sambil menggendong kucing kesayangannya. Untuk menghilangkan rasa jenuh, dirinya lebih sering virtual workout bersama teman-temannya sehingga tidak perlu jauh-jauh ke gym cukup dari kamar ke ruang tengah atau ruang teras.

Meski dirinya merasa nyaman kerja dari rumah tetapi ada saja hal yang tidak mengenakkan, yakni diganggu orang rumah salah satunya tiba-tiba disuruh cuci piring, ngepel, dan lain-lain. Selain itu, dirinya lebih banyak pengeluaran karena perlu traktir orang rumah dan biaya workout online yang menjadi lebih mahal daripada biaya member gym.

Baca Juga:
Edisi New Normal, Pasca Pembukaan Mal di Indonesia
Mengupas Pandangan New Normal Versi Karyawan

Sabda Awal, berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil
Sejak pemerintah menganjurkan kerja dari rumah, tempat Sabda bekerja sama seperti yang diberlakukan tempat Tasya bekerja, yakni memberlakukan sistem shifting. Bedanya adalah, Sabda seminggu kerja dari kantor lalu seminggu kemudian kerja dari rumah. Menurutnya, kerja dari kantor atau kerja dari rumah memiliki kelebihan dan kekurangan, misalnya kelebihan kerja dari kantor lebih simpel karena bekerja menggunakan seragam artinya tidak perlu memikirkan soal outfit dan jika mencari data mudah. Sementara jika kerja dari rumah, kerjaan tidak terlalu banyak. Lalu, kekurangan kerja dari kantor adalah bertemu dengan atasan sehingga banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, lalu kerja dari rumah koneksi internet kurang stabil.

Menurut Sabda, kerja dari rumah akan memberikan dampak yang kurang baik karena produktivitas pekerjaan akan berkurang. Tetapi semua itu kembali lagi terhadap kebijakan perusahaan maupun atasan.

Perihal budget, Sabda merasa lebih hemat jika kerja dari rumah karena bisa masak yang bisa dimakan untuk keperluan makan seharian dan tidak perlu membeli makanan.

Abrian Tioma Magany, berprofesi sebagai Budget Control
Pria yang akrab disapa Abo, memilih kerja dari rumah. Meski tempatnya bekerja sudah mulai mempersilakan untuk kerja dari kantor sejak pemerintah memberlakukan era tatanan baru. Dirinya memilih untuk tetap kerja dari rumah karena dinilai lebih hemat, salah satunya tidak mengeluarkan biaya untuk transportasi. Sayangnya Abo terkadang perlu ke kantor untuk mengambil invoice untuk dibayarkan sesuai deadline.

Sobat, menurut kalian bagaimana? Lebih nyaman kerja dari rumah atau kerja dari kantor? Well, apapun yang Sobat pilih, jika ada dana lebih dari manfaat kerja dari rumah maupun kerja dari kantor, yuk mulai sisihkan dengan mengembangkan dana lebih di Akseleran. Selain mendapatkan bunga mencapai 21% per tahun, tetapi Sobat juga sudah membantu perekonomian Indonesia karena dana yang dikembangkan di Akseleran untuk membantu para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang tengah membutuhkan dana untuk mengembangkan usahanya.

Daftar sekarang dan dapatkan imbal hasil hingga 21% per tahun di Akseleran

Akseleran memberikan saldo awal senilai Rp 100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode CORCOMMBLOG. Melakukan pendanaan di Akseleran juga sangat aman karena lebih dari 98% nilai portofolio pinjamannya memiliki agunan. Sehingga dapat menekan tingkat risiko yang ada. Akseleran juga sudah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor surat KEP-122/D.05/2019 sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin. Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau bisa via email [email protected]

1 COMMENT

Comments are closed.