Pengertian ARB dan ARA dalam Dunia Saham

2
16255
ARA Saham

Saat berinvestasi saham, Anda akan berhadapan dengan berbagai istilah asing. Salah satunya adalah istilah ARB dan ARA saham. kedua istilah tersebut bakal kerap diucapkan oleh trader saham yang telah berpengalaman. Namun, bagi Anda yang merupakan seorang pemula, tentunya bakal kebingungan memahaminya. 

Penggunaan istilah ARB dan ARA dalam dunia saham berkaitan erat dengan sifat saham yang fluktuatif. Terkadang, saham perusahaan tertentu mengalami ARA. Namun, keesokan harinya saham tersebut ternyata tiba-tiba berganti status menjadi ARB. Pada situasi seperti itu, banyak trader saham yang kelimpungan. 

Apa Itu ARA Saham?

ARA saham adalah singkatan dari auto rejection atas dan merupakan mekanisme perdagangan yang berlaku di Bursa Saham Indonesia (BEI). Penerapan sistem ARA dilakukan lewat Jakarta Automated Trading System (JATS) NEXT-G yang memiliki fungsi untuk melayani perdagangan saham dan surat berharga. 

Sistem JATS NEXT-G akan menangani setiap permintaan jual atau beli saham. Hanya saja, ketika saham mencapai harga pada titik tertentu, sistem akan melakukan penolakan secara otomatis. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah auto rejection. ARA adalah istilah ketika harga jual saham melebihi batas atas yang telah ditetapkan. 

Penetapan batas atas dalam bentuk persentase. BEI telah menetapkan batasan ARA saham dengan mempertimbangkan harga jualnya, yaitu: 

Harga saham acuan Nilai ARA
Rp50 sampai Rp200 > 35%
> Rp200 hingga Rp5.000 > 25%
> Rp5.000 > 20%

Cara mengetahui ARA saham cukup mudah, cukup dengan melihat apakah saham tersebut memiliki order antrean jual atau tidak. Contoh, harga saham A saat penutupan hari kemarin adalah Rp3.000. Berdasarkan aturan BEI, nilai ARA dari saham tersebut adalah 25%. 

Dalam kondisi seperti itu, sistem JATS NEXT-G akan menghitung ARA dari saham untuk perdagangan hari ini. Kenaikan saham maksimal yang diperbolehkan adalah sebanyak Rp750. Ketika nilai saham sudah mencapai harga Rp3.750, maka sistem akan melakukan penolakan order penawaran yang melebihi harga tersebut. 

Pengertian Saham ARB

Kalau ARA adalah auto rejection atas, maka ARB adalah auto rejection bawah. Penggunaannya adalah untuk menentukan batas minimum penurunan harga sebuah saham. Ketika nilai saham sudah mencapai ARB, sistem akan melakukan penolakan untuk semua order pembelian. 

Dalam situasi normal, pihak BEI menetapkan nilai ARB berkisar antara 20% sampai 35%. Namun, keadaannya berubah akibat pandemi covid-19. Pada Maret 2020, BEI melakukan koreksi ARB menjadi 10%. Hanya saja, koreksi tersebut ternyata dianggap masih belum sesuai, hingga akhirnya terjadi kembali perubahan ARB menjadi 7%. 

Koreksi ARB saham dilakukan oleh BEI karena fenomena covid-19 yang sangat berpengaruh pada performa saham. Bahkan, hampir semua jenis saham yang diperdagangkan mengalami ARB, tidak hanya saham lapis dua atau tiga. Namun, banyak pula saham berstatus indeks LQ-45 yang menghadapi fenomena serupa. 

Untuk bisa memahami ARB, berikut adalah contohnya. Misal, saham perusahaan A dijual dengan harga Rp5.000 pada penutupan bursa saham kemarin. Batas ARB adalah sebesar 7%. Dengan begitu, saham tersebut mempunyai ARB sebesar Rp4.650. Kalau saham tersebut mengalami penurunan harga pada titik tersebut, sistem otomatis akan menolak order pembelian.

Baca juga: 5 Cara Investasi Saham Untuk Pemula

Manfaat ARB dan ARA Saham

Penetapan ARA dan ARB oleh BEI bertujuan untuk menjaga agar pergerakan saham dalam satu hari tidak terlalu ekstrem. ARA digunakan untuk memastikan bahwa kenaikan harga saham tidak terlalu tinggi. Sementara itu, ARB diterapkan dengan tujuan agar harga saham tidak jatuh ke terlalu rendah. 

  • Manfaat Auto Rejection bagi Pembeli Saham

Seorang trader bisa memperoleh keuntungan ketika mampu membeli saham dengan harga murah dan menjualnya secara mahal. Sistem ARA bekerja untuk memberi jaminan agar trader melakukan pembelian saham dengan harga yang relatif normal. 

  • Manfaat Auto Rejection bagi Perusahaan

Sementara itu, ARB merupakan perlindungan sistem terhadap perusahaan dan para penjual saham. Auto rejection ini dapat mencegah nilai saham jatuh ke titik ekstrem. Dengan begitu, potensi kerugian akibat harga saham yang rendah dapat diminimalkan. 

Nah, itulah pengetahuan tentang sistem ARB dan ARA saham yang perlu Anda ketahui. Hanya saja, saham ARA dan ARB bukanlah pilihan yang tepat bagi trader pemula. Opsi saham ini lebih sesuai bagi mereka yang telah malang melintang di bursa saham. Sebagai gantinya, Anda dapat mempertimbangkan saham yang harganya tidak terlalu fluktuatif. 

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Sebagai platform pengembangan dana yang optimal dengan bunga hingga 16% per tahun kamu dapat memulainya hanya dengan Rp100 ribu saja.

BLOG100

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]

2 COMMENTS

  1. […] Nah mekanisme ini saya rasa perlu Anda pahami karena sangat sering di market terjadi yang namanya ARA atau ARB. Jadi jika ada teman Anda atau trader lain yang bilang saham A terjadi ARB kamu gak bakal bingung lagi. Selengkapnya tentang ARA dan ARB bisa Anda baca disini. […]

Comments are closed.