Mengenal Evergrande, Raksasa Properti China yang Sedang Krisis

0
654

Pasar keuangan global saat ini tengah waspada dikarenakan raksasa properti China, Evergrande, tengah mengalami krisis. Mengutip dari Kompas.com, Raksasa pengembang properti asal China ini diprediksi memiliki utang sebesar US$300 miliar atau setara dengan Rp4.200 triliun. Lalu siapa sebenarnya perusahaan Evergrande? Berikut ulasannya. 

Siapa Evergrande?

Evergrande adalah sebuah grup perusahaan induk investasi yang bergerak di bidang properti di China. Evergrande dan sektor real estate secara umum adalah roda penggerak penting dalam perekonomian China. Perusahaan pengembang real estate ini sedang mengalami krisis akibat tumpukan utang dan pembayaran bunga obligasi yang tak kunjung dibayarkan.

Perusahaan ini didirikan oleh Hui Ka Yan pada 1996 di Guangzhou, China Selatan. Sebelumnya Evergrande dikenal sebagai Grup Hengda. Evergrande Real Estate saat ini memiliki lebih dari 1.300 proyek di lebih dari 280 kota di seluruh China. Evergrande adalah salah satu pengembang real estate terbesar di China. Perusahaan ini masuk dalam kategori 500 perusahaan terbesar di dunia berdasarkan pendapatan. Perusahaan ini terdaftar di Hong Kong dan berbasis di Kota Shenzhen di China selatan. Melansir CNN, perusahaan ini mempekerjakan sekitar 200.000 orang. Secara tidak langsung perusahaan membantu mempertahankan lebih dari 3,8 juta pekerjaan setiap tahun.

Dikutip dari situs resminya, Evergrande punya setidaknya 8 anak usaha utama yakni Evergrande Real Estate, Evergrande New Energy Auto, Evergrande Property Services, HengTen Networks, FCB, Evergrande Fairyland, Evergrande Health, dan Evergrande Spring. 

Selain bisnis perumahan, perusahaan juga berinvestasi dalam bisnis olahraga, taman hiburan dan kendaraan listrik. Dia juga memiliki bisnis makanan dan minuman, menjual air minum kemasan, bahan makanan, produk susu, dan barang-barang lainnya di seluruh Cina. Pada 2010, Evergrande juga membeli tim sepak bola, yang sekarang dikenal sebagai Guangzhou Evergrande. Tim membangun sekolah sepak bola dan juga stadion terbesar di dunia berkapasitas 100.000 penonton.

Sejarah perusahaan

Awal perjalanan perusahaan dimulai pada 1996 silam di Guangzhou oleh Xu Jiayin. Imbas krisis ekonomi yang melanda Asia saat itu dengan menawarkan investasi perumahan di area yang kecil dan berbiaya rendah. Perusahaan mengembangkan kawasan real estate pertama mereka yakni Jinbi Garden pada 1997. pada 1999, Evergrande masuk ke jajaran top 10 perusahaan pengembang real estate di Guangzhou.  Kemudian mulai tahun 2000, Evergrande melanjutkan proyek-proyek ‘Jinbi’ lainnya. Hal ini menjadikan perusahaan semakin berkembang.

Pada tahun 2003, Evergrande mulai melakukan ekspansi besar-besaran ke luar Guangzhou. Perusahaan mulai menyasar 20 kota besar di China. Evergrande mulai masuk ke deretan 20 besar perusahaan real estate di China. Evergrande juga mulai mendapat suntikan investasi dari investor global seperti Temasek, Deutsche Bank, dan Merrill Lynch. Pada 2009, perusahaan mulai melantai di bursa hongkong. 

Masalah Evergrande

Kemelut keuangan Evergrande bermula ketika Beijing menerapkan aturan ketat atas industri real estate pada bulan Agustus lalu. Dikenal sebagai batas ‘Tiga Garis Merah’, aturan tersebut bertujuan untuk mengekang utang dan membuat sektor real estate lebih terjangkau bagi warga China pada umumnya. Kebijakan ini memaksa perusahaan untuk menawarkan diskon lebih besar demi menjaga arus kas mereka. Evergrande dikabarkan tidak mampu lagi melakukan pembayaran bunga pinjamannya. 

Imbasnya Perusahaan ini terlilit utang hingga US$300 miliar atau setara Rp4.275 triliun (kurs Rp14.250 per US$). Evergrande juga harus membayar kupon obligasi senilai US$83,5 juta. Dengan angka utang yang fantastis ini, Evergrande terancam gagal bayar alias default. Kondisi ini juga bisa memicu kepanikan keuangan global.

Evergrande mengatakan masalah yang mereka hadapi bisa menimbulkan situasi “cross default” — di mana kegagalannya membayar utang di satu transaksi akan menular pada perusahaan-perusahaan lain yang berutang ke bank.

Mengutip CNN Indonesia, kemudian Industri perbankan akan menjadi yang pertama terdampak jika efek menular ini meluas di sektor properti Tiongkok. Kelompok berikutnya adalah pembeli rumah dan investor. Di sejumlah kota, mereka melakukan protes dan menuntut pengembalian dana. Pada 13 September misalnya, 100 investor mendatangi kantor pusat Evergrande di Shenzhen, menagih pembayaran utang dan produk-produk finansial lain yang sudah jatuh tempo.

Ayo dukung pertumbuhan ekonomi dengan memberikan pendanaan UMKM secara aman di Akseleran! Daftar sekarang dan dapatkan imbal hasil hingga 12% per tahun di Akseleran.

Akseleran memberikan saldo awal senilai Rp100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode CORCOMMBLOG. Melakukan pendanaan di P2P Lending Akseleran juga sangat aman karena lebih dari 98% nilai portofolio pinjamannya memiliki agunan. Sehingga dapat menekan tingkat risiko yang ada. Akseleran juga sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor surat KEP-122/D.05/2019 sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin. 

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau via email [email protected]

Penulis: Raymas Putro | Editor: Rimba Laut