Mencari Obat Kesenjangan Ekonomi

2
1143
Akseleran_Article_Featured_Image_1366x768_obatKesenjangan

featured image diambil dari http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/24/213000326/mencari-obat-kesenjangan-ekonomi

Artikel di bawah ini ditulis oleh CEO Akseleran, Ivan Tambunan, pada tanggal 24 Oktober 2017 dan diambil dari situs Kompas (http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/24/213000326/mencari-obat-kesenjangan-ekonomi).

Artikel ini ingin menunjukan bahwa salah satu obat untuk mengatasi kesenjangan ekonomi adalah adanya Teknologi Finansial (TekFin atau sering juga disebut Fintech). Teknologi ini mampu memberikan akses kepada semua orang untuk menjadi investor dan membantu UKM dalam mendapatkan tambahan modal usaha.

Salah satu produk Fintech yang sedang berkembang di Indonesia adalah Peer-to-Peer Lending yang mampu menjembatani investor dengan pelaku usaha yang membutuhkan tambahan modal.


Berdasarkan data BPS, pendapatan per kapita Indonesia tahun 2016 mencapai Rp. 47,96 juta, naik secara signifikan dari Rp 30,8 juta pada tahun 2011.

Namun demikian, perlu ditelaah lebih dalam apakah kenaikan pendapatan per kapita tersebut dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Pasalnya, kesenjangan ekonomi di Indonesia cukup memprihatinkan. Berdasarkan Global Wealth Report dari Credit Suisse, Indonesia merupakan salah satu negara paling timpang di Dunia.

Untuk mengurangi kesenjangan ekonomi, pendapatan masyarakat perlu meningkat secara merata.

Salah satu cara ampuh untuk mencapai hal tersebut adalah dengan memastikan bahwa masyarakat menempatkan sebagian besar asetnya pada aset yang bersifat produktif seperti aset finansial dalam bentuk saham, reksa dana, obligasi maupun pinjaman.

Masalahnya, dalam Global Wealth 2017 Report yang dikeluarkan Boston Consulting Group, terkuak bahwa masyarakat Indonesia yang memiliki aset kurang dari 1 juta dollar AS rata-rata memegang lebih dari 75 persen asetnya dalam bentuk uang dan tabungan.

Padahal bunga tabungan dan deposito di Indonesia hanya memberikan imbal hasil sampai sekitar 6 persen per tahun, jauh dari imbal hasil saham, reksa dana, obligasi dan pinjaman.

Lebih lanjut, laporan tersebut menyatakan bahwa 0,1 persen orang Indonesia menguasai 51,8 persen aset finansial.

Jenis aset finansial dan tingkat imbal hasilnya per tahun
Jenis aset finansial dan tingkat imbal hasilnya per tahun(Dok. Akseleran)

Tidak meratanya penguasaan aset finansial yang produktif di masyarakat disebabkan dua alasan utama. Yang pertama adalah permasalahan budaya dan ketidakpahaman. Banyak yang beranggapan investasi itu tabu dan tidak paham dengan produk investasi yang ada.

Alasan kedua adalah akses investasi yang tidak ramah, tidak mudah, dan menakutkan bagi banyak orang.

Untuk dapat membeli saham atau obligasi misalnya, selalu ada batasan minimal investasi yang besar, dengan kewajiban mendaftar secara fisik dan proses yang rumit. Hal tersebut menjadi momok bagi masyarakat lapisan terbawah untuk ikut berinvestasi dan membeli aset finansial.

Teknologi finansial ( tekfin) dapat menjadi andalan untuk membuka akses yang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menguasai aset finansial dan mengatasi kedua permasalahan di atas.

Dengan kekuatan teknologi dan perangkat digital, perusahaan tekfin mempermudah dan menyederhanakan proses berinvestasi.

Selain itu, perusahaan tekfin juga berada di lini terdepan dalam melakukan edukasi mengenai aset finansial.

Sebagai contoh, sekarang melalui produk BukaReksa dari BukaLapak yang bekerja sama dengan Bareksa, orang bisa berinvestasi reksa dana secara online hanya dengan mengeluarkan dana sebesar Rp10.000 dan mengisi form yang relatif singkat.

Contoh lainnya, bila dulu orang sulit mendapatkan informasi lengkap seputar investasi saham di pasar modal, kini setiap orang bisa mengakses situs seperti Stockbit yang memberikan alat untuk menganalisa saham secara online dan mudah.

Salah satu layanan tekfin yang mengviralkan investasi bagi masyarakat adalah platform crowdfunding.

Di platform crowdfunding, masyarakat mengumpulkan dana secara bersama-sama untuk membiayai suatu usaha atau kegiatan secara online.

Berbagai pilihan jenis aset finansial pun ditawarkan oleh berbagai platform crowdfunding di Indonesia, seperti Akseleran yang memberikan kesempatan berinvestasi pada UKM dalam bentuk pinjaman (biasa disebut p2p lending) dan penyertaan modal atau saham (biasa disebut equity crowdfunding).

Dalam membuka akses kepada masyarakat untuk menempatkan aset finansialnya, platform crowdfunding seperti Akseleran berperan untuk menciptakan proses mempertemukan penggalang dana dengan investor yang praktis, aman dan modern sehingga kegiatan transaksi dapat dilakukan secara elektronik melalui komputer, smartphone, atau perangkat digital lainnya.

Platform crowdfunding juga bertanggung jawab untuk mengurus proses administrasi dari investasi serta melakukan proses seleksi usaha, analisa kredit dan investasi, dan mitigasi risiko.

Tugas investor tinggal mempelajari kesempatan investasi yang ada dan melakukan investasi pada usaha yang dipercayainya.

Dengan nilai investasi mulai dari Rp.100.000, platform ini diharapkan mampu menarik perhatian investor pemula.

Dengan kemudahan yang ada, tak heran bahwa dalam waktu kurang dari 1 tahun sejak OJK mengeluarkan aturan main peer-to-peer lending, investasi dalam bentuk pinjaman yang berhasil dikumpulkan dari masyarakat melalui berbagai platform crowdfunding telah mencapai Rp. 1 triliun.

Melalui upaya edukasi meningkatkan kesadaran akan pentingnya aset finansial yang dibarengi dengan akses investasi yang mudah, diharapkan kenaikan pendapatan per kapita dapat dinikmati oleh masyarakat secara lebih merata dan mengurangi kesenjangan ekonomi.

Namun demikian, perusahaan tekfin tidak bisa melakukannya sendirian. Butuh dukungan stakeholder lain baik pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat sendiri untuk menciptakan ekosistem yang kondusif untuk mewujudkan cita-cita bersama ini.

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here