Ivan Tambunan:Akseleran Berhasil Pertahankan Angka Kredit Macet yang Rendah

0
636
Ivan Nikolas Tambunan, Group CEO & Co-Founder Akseleran

“Buat kami di Akseleran hama nomor satu dari bisnis lending itu NPL. Nah ini yang harus kita pastikan kita lakukan assessment pinjaman secara seksama, secara prudent. Untungnya karena dari awal kita concern sama NPL, dan NPL Akseleran compare to industry bagus banget, NPL to outstanding kita 0,5% makanya TKB90 kita 99,50%, itu jauh di atas average industri sekitar 97% artinya NPL-nya sekitar 3%”

JAKARTA – Pertumbuhan industri Financial Technology (“FinTech”) peer to peer (“P2P Lending”) di Indonesia terbilang cukup pesat. Hal ini terlihat dari outstanding pembiayaan FinTech P2P Lending pada Januari 2023 yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 63,47 persen yoy mencapai Rp51,03 triliun (Desember 2022: Rp51,12 triliun atau sebesar 71,1 persen yoy). 

Sementara itu, tingkat risiko kredit atau TKB90 tercatat 97,25 persen yoy dengan TWP90 tercatat turun menjadi 2,75 persen (Desember 2022: 2,78 persen). Sedangkan FinTech P2P Lending yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencapai 102 perusahaan. 

Salah satu, perusahaan FinTech P2P Lending yang tetap eksis dan begitu moncer sepak terjangnya adalah PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran). Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2017 ini, telah menyalurkan pinjaman sebesar hampir Rp7 triliun (2017-2022) dimana sebesar sekitar 97 persen di antaranya disalurkan kepada sektor produktif, khususnya usaha kecil menengah. 

Selain itu, yang lebih mengagumkan lagi ialah tingkat rasio kredit macetnya alias TKB90 yang konsisten berada di level 99,50 persen. Ini artinya kredit macet atau TWP90 yang ada di Akseleran hanya 0,5 persen. Bagaimana Akseleran bisa menjaga tingkat wanprestasi penyaluran kreditnya yang begitu rendah? Group CEO & Co-Founder Akseleran, Ivan Nikolas Tambunan menjelaskannya. 

Ivan mengatakan, dalam industri Fintech P2P Lending, kredit macet atau bahasa perbankannya NPL merupakan tantangan terberat dan hama nomor satu di Akseleran. Oleh karenanya, sejak awal berdiri, pihaknya sudah fokus bagaimana me-manage kredit macet. 

“Buat kami di Akseleran hama nomor satu dari bisnis lending itu NPL. Nah ini yang harus kita pastikan kita lakukan assessment pinjaman secara seksama, secara prudent. Untungnya karena dari awal kita concern sama NPL, dan NPL Akseleran compare to industry bagus banget, NPL to outstanding kita 0,5% makanya TKB90 kita 99,50%, itu jauh di atas average industri sekitar 97% artinya NPL-nya sekitar 3%,” ujar Ivan kepada wartawan di kantornya, Jakarta, baru-baru ini. 

Lebih lanjut, pria kelahiran Jakarta, 36 tahun silam ini, menjelaskan bahwa NPL disebut seperti hama karena bila NPL itu tidak dikendalikan akan mematikan usaha Fintech itu sendiri. 

“Jadi ini challenge yang menurut saya penting banget karena kalau NPL tinggi pemberi pinjamannya rugi, kalau pemberi pinjaman rugi, mereka akan kabur, ya nggak ada funding-nya selesai marketplace. Nah inilah challenge-nya yang perlu kita selalu make sure dengan terus melakukan credit assesment secara prudent,” katanya.

Oleh karena itu, Ivan telah memiliki sejumlah strategi untuk mengendalikan kredit macet di perseroannya. Pertama, melakukan credit assessment secara prudent dan seksama. 

“Jadi kita lihat borrower itu nggak asal kita salurkan pinjaman tapi make sure borrower itu memang layak. Lihat layaknya dari mana sih? Kita lihat dari sisi keuangannya, kita lihat lagi invoice atau PO Financing-nya, kita lihat underlying-nya sama kredit history-nya. Ini semua digabung untuk melihat borrower ini layak atau tidak. itu step satu ya,” papar alumni Fakultas Hukum, Universitas Indonesia tersebut. 

Kemudian langkah kedua, Akseleran menerapkan joint account arrangement di mana pembayaran invoice akan masuk ke rekening debitur yang dikontrol bersama-sama Akseleran. “Jadi borrower tuh nggak bisa keluarin uang tanpa otoritasi dari kita,” tambahnya. 

Selanjutnya, apabila kedua langkah tersebut tetap berpotensi menjadi NPL, Akseleran masih punya jurus terakhir, yakni credit insurance yang dapat meng-cover pinjaman tertunggak hingga 99 persen. 

“Nah di sinilah peran lapis terakhir kita jagain dengan yang namanya credit insurance. Kita punya credit insurance yang bisa cover 99% dari pokok pinjaman yang tertunggak. Efeknya ya TKB90 kita bagus di level 99,50%,” ungkap lulusan S2 Queen Mary University of London ini. 

Melalui strategi tersebut, Ivan berharap Akseleran dapat berkontribusi nyata bagi pertumbuhan usaha kecil menengah di Indonesia dan mengurangi funding gap-nya yang begitu besar. 

“Kami ingin punya andil untuk bantu usaha kecil menengah apalagi di Indonesia ada funding gap yang diderita usaha kecil menengah. Menurut OJK itu funding gap-nya bisa Rp1.000 sampai Rp2.000 triliun per tahun dan ini makin membesar tiap tahunnya,” imbuhnya. 

Menurut Ivan, tingginya funding gap tersebut karena skala dan jumlah usaha kecil menengah semakin besar namun tidak diimbangi dengan kemudahan akses pendanaan bagi usaha kecil  menengah itu sendiri. 

“Kenapa ada funding gap? karena ketika mereka meminjam, produk yang ditawarkan itu selalu membutuhkan agunan dalam bentuk tanah dan bangunan. Ini nggak cocok dengan usaha kecil menengah. Mereka kebanyakan nggak punya tanah dan bangunan dan kalaupun punya nggak cukup meng-cover modal kerjanya,” pungkasnya. 

Berangkat dari hal tersebut, hadirlah Akseleran yang menawarkan konsep pendanaan bagi usaha kecil menengah berbetuk crowdfunding yang akan menghubungkan si pemberi pinjaman dan penerima pinjaman dengan produk pinjaman berbasis cashflow. 

“Itu akan sangat membantu men-tackle funding gap tadi sambil sekalian kita buka opportunity kepada masyarakat luas untuk berinvestasi atau melakukan pendanaaan,” tutup Ivan yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Hukum, Etika dan Perlindungan Konsumen di Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).