Akhir 2020, Akseleran Optimistis Pembiayaan Tembus Rp1 Triliun

0
300

“Ada tiga faktor penguat terealisasinya pembiayaan di akhir tahun”

JAKARTA – Penyelenggara fintech berbasis Peer to Peer (P2P) Lending Akseleran yang sudah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku optimistis mampu menyalurkan pinjaman usaha atau pembiayaan sebesar Rp1 triliun di akhir tahun 2020. Setidaknya, ada tiga faktor penguat untuk Akseleran mampu mencapai target di semester kedua tahun ini.

“Meski sempat terkendala oleh dampak pandemi Covid-19, kami masih optimistis angka penyaluran pembiayaan tahun ini mencapai target 1 triliun rupiah. Pada semester pertama 2020, kami sudah hampir 400 miliar rupiah sehingga mulai semester kedua kami kejar target 600 miliar rupiah,” ujar Ivan Tambunan, CEO & Co-Founder Akseleran saat diwawancarai Bisnis Indonesia.

Ivan menjelaskan, pada tahun lalu Akseleran berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp770 miliar. Sehingga, katanya, pada tahun ini mengalami sedikit kenaikan akibat dampak Covid-19 yang menimbilkan perekonomian di Indonesia masih sulit.

Untuk tiga faktor penguat terealisasinya target di akhir tahun ini, Ivan mengungkapkan, pertama adalah karena ketika masa pandemi pun komposisi penyaluran pembiayaan Akseleran ditopang oleh sektor yang justru dibutuhkan saat pandemi. Dia mencontohkan, proyek-proyek bantuan sosial, pelaku trading yang lepas dari pembiayaan perbankan atau multifinance.

“Jadi justru ada kesempatan P2P Lending bisa masuk memperluas pangsa. Selain itu, kami juga masih akan mengandalkan sektor-sektor utama kita yang minim terdampak Covid-19, yaitu engineering, infrastruktur, mining, oil and gas, dan power. Terakhir, tentunya merangkul yang terus berjalan, seperti distribusi bahan pokok dan kesehatan, farmasi dan obat-obatan,” terangnya.

Di sisi lain, dia memproyeksikan, beberapa sektor akan tetap sulit selama masa transisi dan masih akan menjauh dari pembiayaan P2P Lending. Antara lain, jelas Ivan, sektor manufaktur terutama yang mengambil bahan baku impor dan yang berhubungan dengan leisure seperti restoran, perhotelan, dan travel.

“Faktor penguat kedua, karena selama ini Akseleran sudah melakukan antisipasi dengan memperketat penyaluran pembiayaan sejak Januari 2020, yakni dengan memperbesar komposisi pembiayaan berbasis invoice financing. Tadinya 60 persen dari portofolio Akseleran itu pre-invoice financing jadi pelaku usaha baru dapat pekerjaan saja sudah bisa meminjam modal untuk mengerjakan proyeknya sehingga invoice financing kami cuma 30 persen dan sekarang mulai tahun ini posisinya sudah terbalik,” ungkap Ivan.

Meskipun demikian, dia menegaskan, upaya pengetatan ini bukan berarti Akseleran mulai berniat menghentikan pembiayaan pre-invoice financing. Menurutnya, apabila pelaku usaha mampu membuktikan memiliki cash flow yang baik, Akseleran tetap akan mengakomodasi.

“Dan faktor penguat ketiga, karena strategi yang telah dilakukan Akseleran mampu menekan angka kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Bahkan, mampu meningkatkan persentase tingkat keberhasilan pengembalian pada hari ke-90 (TKB90),” kata Ivan.

Dia mengatakan, sekarang Akseleran bisa meraih TKB90 96,33% dari total outstanding. “Kalau dari total penyaluran pembiayaan, angka NPL kami 0,57% saja, padahal sebelum Covid-19 sempat 0,7% di akhir 2019,” tambah Ivan.

Baca Juga: 

Cara Lender Hindari Risiko Gagal Bayar