Jangan Panik, Rupiah Masih Adem

0
390

“BI pangkas suku bunga acuan dan pemerintah revisi outlook ekonomi”

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terlihat ‘adem’ dengan tetap konsisten di bawah level Rp15.000. Bahkan, pengamat memprediksi, dalam jangka pendek mata uang garuda masih memiliki ‘tenaga ekstra’ untuk berada di kisaran Rp14.200 hingga Rp14.350 per dolar AS.

Seperti diketahui, kemarin, rupiah menjadi mata uang utama Asia terbaik keempat setelah won Korea, ringgit Malaysia, dan yuan Cina. Tercatat, penguatan terbatas rupiah sebagai dampak dari hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bunga acuan 7-Day Reserve Repo Rate (BI7DRR) menjadi sebesar 4,25%.

“Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas perekonomian dan mendorong pemulihan ekonomi di era Covid19. Ke depan, Bank Indonesia tetap melihat ruang penurunan suku bunga seiring rendahnya tekanan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Berdasarkan pantauan Akseleran dari data Jakarta interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), BI, rupiah kemarin ditutup menguat tipis sebesar 48 poin dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya menjadi Rp14.186 per dolar AS. Meski demikian, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena rupiah kembali terpeleset ke level Rp14.242 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (19/6).

Nggak Jauh dari Rp14 Ribuan

Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, menyambut positif langkah penurunan suku bunga acuan oleh BI. Menurutnya, BI memang seharusnya tetap berada di pasar untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan kecil peluangnya untuk terjadi kepanikan pasar seperti yang terjadi pada bulan Maret 2020.

Memang, katanya, dalam jangka pendek pergerakan rupiah tetap dibayangi oleh ketidakpastian dari pandemi Covid19 yang masih relatif tinggi. Josua mengungkapkan, sekalipun Covid19 masih mewabah yang akan mampu kembali mendongkrak dolar, namun untuk membuat rupiah melemah jauh di atas Rp15.000 agak berat pada waktu saat ini.

“Biacara tentang ketidakpastian yang tinggi, kita lihat di kondisi globalnya mulai menunjukkan adanya second wave Covid19 di beberapa negara. Misalnya, di Cina mulai merebak lagi Covid19 di Beijing dan New Zealand juga ada kasus baru yang membuat mereka kembali melakukan karantina dan belum lagi yang terjadi di Amerika maupun negara-negara di Eropa. Sehingga kebijakan New Normal yang mulai dijalankan di berbagai negara termasuk di Indonesia masih tetap memiliki risiko,” kata Josua kepada Akseleran, Jumat (19/6).

Dia memprediksi, untuk jangka waktu pendek setidaknya rupiah masih memperlihatkan kesejukannya dengan berada di kisaran level Rp14.200 hingga Rp14.250 per dolar AS. Dari faktor internal, Josua melihat kondisi yang terjadi di April, Mei, hingga awal Juni 2020 secara bertahap investor asing mulai masuk lagi ke dalam pasar keuangan Indonesia dan inilah yang membuat supply terhadap mata uang negeri Paman Sam bisa kembali naik dibandingkan Maret kemarin.

“Walaupun dari sisi supply tetap melihat bagaimana sentimen global. Meski demikian, kondisi positif yang terjadi di 2,5 bulan terakhir membuat kita dapat optimistis bahwa meski terjadi lagi sentimen negatif maka nilai tukar rupiah rasanya nggak akan jauh-jauh dari level 14 ribuan,” jelasnya.

Baca Juga:

Kiat Akseleran Memasuki New Normal

Special Guest: Kisah Sukses Borrower Akseleran

Sentimen Positif Terkuat 

Secara fundamental, kata Josua, ada empat faktor yang memberikan sentimen positif terkuat untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pertama, terangnya, pertumbuhan ekonomi yang tetap diharapkan masih bisa tumbuh positif, kemudian yang kedua adalah adanya selisih bunga usai BI memangkas suku bunga acuannya setelah aksi yang sama dilakukan oleh bank sentral global secara cukup signifikan dan selisih inilah yang membuat menarik.

Adapun yang ketiga, lanjutnya, rating dari peringkat utang Indonesia yang sejauh ini masih di kategori investment grade dan belum ada tanda-tanda penurunan ditambah lagi banyak negara yang justru mengalami penurunan peringkat akibat penyebaran pandemi Covid19. Dan keempat, dia menerangkan, bertahannya posisi rating Indonesia di investment grade membuat masuknya kembali modal asing sehingga diharapkan rupiah cenderung dapat lebih stabil ke depannya.

“Selama ini fundamental kita didukung oleh konsumsi rumah tangga dan ekonomi domestik yang cukup kuat jadi nanti kalau kita lihat ekspektasi proyeksi dari lembaga internasional terhadap negara-negara maju kan semuanya mengalami resesi. Sehingga dari keempat faktor tersebut, harapannya mampu menopang rupiah dapat bergerak stabil,” tambah Josua.

Selain itu, pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani, baru saja kembali merevisi outlook pertumbuhan ekononomi menjadi 1%. Adanya perubahan proyeksi ini, kata Sri, berdasarkan pertimbangan skenario terberat pada perekonomian Indonesia akibat pandemi Covid19 dan diprediksi kondisi terberat akan terjadi pada kuartal II tahun ini.

“Jika pada kuartal ketiga ekonomi berangsur pulih, masih ada ruang pertumbuhannya tercatat positif di level 1%. Namun, kita tetap optimistis bahwa ekonomi akan kembali pulih pada 2021 dimana tumbuh di kisaran 4,5% hingga 5,5% sesuai dengan KEM-PPKF yang disampaikan kepada DPR,” jelas Sri Mulyani.

Daftar sekarang dan dapatkan imbal hasil hingga 21% per tahun di Akseleran

Akseleran memberikan saldo awal senilai Rp 100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode CORCOMMBLOG. Melakukan pendanaan di Akseleran juga sangat aman karena lebih dari 98% nilai portofolio pinjamannya memiliki agunan. Sehingga dapat menekan tingkat risiko yang ada. Akseleran juga sudah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor surat KEP-122/D.05/2019 sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin.

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau bisa via email [email protected]