Mudah Memahami Sunk Cost Fallacy

0
2082
Sunk Cost Adalah

Sangat mudah untuk merasionalisasi mengapa kamu harus menjaga hal-hal yang membebani diri sendiri. Namun, jika itu menyakiti, menahan atau hanya menambah frustasi dalam hidupmu, mengapa kamu tidak bisa begitu saja memutuskan hubungan dan melanjutkan hidup? Konsep perilaku yang dikenal sebagai “sunk cost fallacy” ini mungkin menjadi penyebabnya.

Apa Itu Sunk Cost Fallacy?

Sunk cost fallacy atau sunk cost adalah sebenarnya berakar pada teori ekonomi, tetapi dapat diterapkan pada banyak aspek perilaku manusia. Secara sederhana, sunk cost adalah suatu kondisi yang menunjukkan bahwa kamu terlalu menekankan semua hal yang telah kamu investasikan dalam sesuatu, apakah itu waktu, uang, keterlibatan emosional, dan lainnya. Sayangnya, kamu lantas membiarkan persepsi tentang ‘biaya yang hangus’ itu sebagai panduan untuk pengambilan keputusan di masa depan.

Namun, sunk cost fallacy tidak hanya berlaku untuk hal-hal sepele. Teori ini bisa lebih dalam dan meluas ke berbagai aspek dalam kehidupan, tak terkecuali hubungan, pekerjaan, dan komitmen lain yang telah kamu ambil.

Contoh Sunk Cost Fallacy

Ada banyak contoh dalam kehidupan yang bisa menggambarkan kondisi sunk cost fallacy. Misalnya, kamu mungkin lebih cenderung untuk tetap duduk menonton film meski kamu tidak menyukainya karena sudah terlanjur mengeluarkan uang untuk membayar tiketnya.

Contoh mudah lain dari sunk cost fallacy adalah kamu hendak berlibur ke destinasi wisata impian. Berbagai hal pun kamu persiapkan. Kamu mendapatkan hotel bintang lima terbaik dengan penawaran yang sangat menggiurkan. Lalu, sesampainya di sana, ternyata kondisi hotel tidak seperti apa yang ditawarkan dalam foto yang kamu lihat di internet. 

Kamu punya dua pilihan. Apakah kamu akan pindah mencari hotel lain dan mengeluarkan biaya tambahan, atau tetap memilih tinggal di hotel tersebut. Sayangnya, hasil riset menunjukkan bahwa lebih banyak orang yang  memutuskan untuk tetap tinggal di hotel tersebut. Alasannya tak lain karena telah mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan pemesanan.

Baca juga: Sudah Tahu Apa Bedanya Cost dan Expense?

Sunk cost fallacy atau sunk cost adalah juga dapat membuat sulit untuk meninggalkan pekerjaan atau hubungan dalam kondisi yang lebih kompleks, bahkan ketika hubungan tersebut jelas tidak sehat atau tidak menjamin hal yang baik di masa depan. Rasanya lebih sulit untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat setelah lima tahun dibandingkan dengan hubungan yang baru terjalin selama lima bulan.

Bukan tanpa alasan, ini karena mungkin kamu merasa seolah-olah kamu telah memberikan atau menginvestasikan segala hal yang akan ‘terbuang percuma’ jika kamu pergi. Sayangnya, bertahan justru hanya semakin menguras apa yang kamu miliki. 

Sama halnya seperti uang, waktu, energi, dan ruang merupakan sumber daya yang berharga dan terbatas  yang tentu akan berusaha kamu jaga dan pertahankan. Namun terkadang, kamu justru akhirnya kehilangan lebih banyak lagi dalam upaya untuk menghindari ‘menyia-nyiakan’ semua hal yang berharga ini.

Coba pikirkan, jika kamu telah memberikan semua sumber daya dan investasi yang kamu miliki, berulang kali, tetapi tetap saja gagal. Logikanya, inilah saatnya bagi kamu untuk tak lagi bertahan. Sayangnya, banyak orang yang tidak sependapat. Mereka terus-menerus bertahan meski tahu telah gagal hanya karena yakin bahwa investasi yang sudah diberikan harus dipertahankan dengan segala cara. Padahal, sudah jelas ini adalah keputusan yang sangat buruk. 

Adakah Cara Menghindarinya?

Jika kamu tetap bertahan pada cara pemikiran ini, kamu hanya akan terus menahan diri dan semakin frustasi pada akhirnya. Selalu ingat, bertahan pada kondisi yang sebenarnya tidak kamu inginkan hanya akan merugikan diri sendiri. Lantas, adakah cara untuk memutus siklus tersebut?

Sebenarnya, jika kamu sudah siap untuk meninggalkan hobi, hubungan, komitmen, atau segala hal yang tidak lagi bermanfaat bagi dirimu sendiri, kamu bisa terbebas dari risiko sunk cost fallacy lainnya. Ini kembali pada diri kamu sendiri, apakah kamu memang ingin keluar dari ketidaknyamanan tersebut atau tetap bertahan.

Memang benar, manusia cenderung lebih takut kehilangan apa yang sudah dimiliki dibandingkan dengan mendapatkan hal baru yang sebenarnya setimpal atau bahkan lebih besar. Kondisi ini dikenal dengan istilah loss aversion. Jadi, jangan takut untuk melepas sesuatu yang kamu sudah tahu pasti akan berdampak buruk untuk menyambut hal baru yang lebih baik. 

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Sebagai platform pengembangan dana yang optimal dengan bunga hingga 16% per tahun kamu dapat memulainya hanya dengan Rp100 ribu saja.

BLOG100

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]