Moving Average: Pengertian, Contoh, serta Fungsinya

0
875
Metode Moving Average

Metode Moving Average – Bermain trading adalah salah satu upaya untuk mengejar cuan atau keuntungan tanpa menguras terlalu banyak energi dan waktu. Hal yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca kondisi pasar, menganalisis tren saham, dan tentunya modal. Penerapannya di lapangan bisa jadi lebih sulit dari yang dibayangkan, tetapi bukan berarti tidak bisa ditaklukkan.

Moving Average hadir untuk membantu menganalisis pergerakan harga aset. Indikator saham ini kerap digunakan pemula hingga tingkat mahir di dunia trading. Karakteristiknya diibaratkan sebagai filter bagi fluktuasi harga jangka pendek yang bermunculan secara acak.

Mengidentifikasi tren hanyalah satu dari beberapa kegunaan metode Moving Average. Praktiknya cukup sederhana, dengan skema penghitungan level mudah hingga rumit sekalipun.

Pengertian Moving Average

Moving Average adalah indikator yang menghitung harga rata-rata suatu aset dalam periode waktu tertentu, kemudian menghubungkannya dalam bentuk garis. Nilai rata-rata bisa berasal dari harga pembukaan (open), penutupan (close), tertinggi (high), terendah (low), ataupun pertengahan (median). 

Moving Average adalah bagian dari indikator lagging. Artinya, metode ini berlandaskan peristiwa sebelumnya dan menerangkan informasi mengenai data riwayat pasar. Kegunaannya bukan sebagai alat prediksi, melainkan memberi konfirmasi.

Sementara itu, pilihan kerangka waktu bisa disesuaikan dengan kebutuhan trader. Misalnya, periode 5 (1 minggu), 20 (1 bulan), 60 (3 bulan), ataupun 120 (6 bulan). Makin panjang periode yang dipakai, makin lambat pula pergerakan garis (lagging) dibandingkan harga.

Adapun Moving Average terbagi menjadi:

  • Simple Moving Average
  • Weighted Moving Average
  • Exponential Moving Average

Di antara ketiganya, Simple Moving Average (SMA) memiliki pola penghitungan yang paling sederhana dan kerap digunakan oleh para trader. Biasanya, SMA dimanfaatkan untuk trading jangka panjang. 

Contoh Penghitungan Simple Moving Average

Simple Moving Average dihitung dengan cara menambahkan deretan harga terkini pada suatu rentang waktu, lalu membaginya sejumlah periode tersebut. Maka, nilai rata-rata pun bisa didapat.

Inilah rumus Moving Average paling dasar.

Anda tidak harus terlalu terpaku pada simbol-simbol yang ada di rumus. Contoh soal di bawah ini bisa membantu Anda lebih cepat memahaminya.

Anggaplah SMA berperiode 5, sedangkan penghitungan dimulai dari harga penutupan pada timeframe daily, maka:

Harga penutupan harian: 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18

SMA-5 day I : (12+13+14+15+16) / 5 = 14

SMA-5 day II : (13+14+15+16+17) / 5 = 15

SMA-5 day III : (14+15+16+17+18) / 5 = 16

Anda juga bisa langsung menyusun nilai rata-rata ke dalam tabel berikut ini:

Hari Closing SMA-5
1 12
2 13
3 14
4 15
5 16 14
6 17 15
7 18 16

Fungsi Moving Average

Metode Moving Average memiliki sejumlah fungsi, antara lain:

  • Mengidentifikasi tren nilai saham

Grafik harga beserta garis Moving Average dapat membantu trader mengenali tren nilai saham yang sedang berlaku. Jika harga saat ini menempati area di bawah garis Moving Average, berarti harga cenderung turun atau bearish. Sebaliknya, harga yang berada di atas Moving Average menandakan tren bullish atau cenderung naik.

Baca juga: Pengertian Saham dan Perannya Bagi Kita

  • Mengetahui kapan pembalikan tren terjadi

Kapan tren bearish berbalik arah menjadi bullish? Garis Moving Average dapat menjawabnya. Polanya bisa dilihat dari perpotongan MA20 dan MA50.

  • Menentukan posisi Support dan Resistence

Support dan Resistence adalah titik ketika harga dipantulkan kembali dan meneruskan tren, baik bearish maupun bullish. Peran Moving Average yakni menentukan letak kedua titik tersebut. Caranya ialah dengan menggabungkan dua macam Moving Average, umumnya MA20 dan MA50.

Sekilas Tentang WMA dan EMA

Pada dasarnya, Weight Moving Average (WMA) agak mirip dengan SMA. Harga penutupan yang terdahulu dibuang, tetapi kemudian ditambahkan harga terbaru. Perbedaannya terletak pada bobot data terbaru, yang diperoleh dari mengalikan faktor.

Rumus WMA:

Sementara itu, Exponential Moving Average (EMA) tidak membuang data-data terdahulu, melainkan hanya mengurangi bobotnya secara eksponensial. Sebagaimana WMA, EMA juga lebih sensitif dengan pergerakan nilai saham.

Rumus EMA: 

EMA jamak diterapkan bersama indikator lain untuk mengonfirmasi pergerakan pasar secara signifikan serta mengukur validitasnya.  

Kesimpulannya, penguasaan terhadap metode Moving Average selayaknya menjadi bekal dasar sebelum berkecimpung di dunia trading. Mulailah dengan penghitungan sederhana, lalu berlanjut ke penghitungan yang lebih rumit. 

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Sebagai platform pengembangan dana yang optimal dengan bunga hingga 21% per tahun kamu dapat memulainya hanya dengan Rp100 ribu saja.

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]