Belajar dari Kegagalan Para Investor di Kampung Kurma

0
876
Kampung Kurma

Pada akhir tahun 2019 lalu, media dibuat ramai dengan pemberitaan tentang investasi bodong Kampung Kurma. Investasi yang mengusung konsep syariah dan antiriba ini telah dilaporkan kepada pihak yang berwajib karena sejumlah korban mengaku telah mengalami kerugian hingga ratusan juta.

Dari kejadian ini, sangat penting kita memahami berbagai jenis investasi agar tidak terjebak investasi bodong seperti yang pada kasus Kampung Kurma. 

Awal Mula Investasi Kampung Kurma

Investasi Kampung Kurma mulai terdengar gaungnya sejak akhir 2017. Lewat sebuah unggahan di sosial media, berita soal investasi berbasis syariah dan antiriba ini mulai membuat banyak orang tertarik.

Skema yang ditawarkan adalah investasi perkebunan unit lahan pohon kurma. Modal yang ditawarkan agar bisa ikut investasi ini mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Rencananya, satu unit lahan dengan luas 400-500 meter persegi akan ditanami lima pohon kurma, yang nantinya akan menghasilkan 175 juta rupiah per tahun.

Pohon kurma yang ditanam disebutkan akan berbuah ketika memasuki usia 4-10 tahun dan akan terus berbuah hingga usia pohon mencapai 90-100 tahun. Pihak perusahaan menawarkan sebanyak 4.208 kavling untuk para calon investor dengan bonus satu buah pohon kurma untuk setiap kavling.

Tidak hanya itu saja, pihak pengelola Kampung Kurma juga menyebutkan bahwa uang yang disetorkan investor akan digunakan untuk mendirikan pemukiman syariah lengkap dengan fasilitas penunjang olahraga yang disunahkan. Hal inilah yang membuat banyak orang mulai tertarik dengan investasi ini.

Sayangnya, perusahaan tersebut ternyata tidak memiliki izin usaha dari pemerintah. Tidak hanya itu saja, perusahaan pengelola Kampung Kurma diduga menjual lahan kavling palsu serta proses peralihan akta jual beli (AJB) antara pemilik lahan dengan konsumen juga dipersulit. Perusahaan justru mengalihkan lahan tersebut secara sepihak melalui surat pemberitahuan. 

Perjanjian Pengikatan Jual-Beli juga tidak kunjung dibuat meski sudah menunggu lama. Kemudian, investor malah mendengar bahwa perusahaan tersebut mengalami kesulitan uang. Hal yang sulit dipercaya mengingat para investor membayar tunai untuk investasi tersebut.

Ketika kejanggalan mulai bermunculan, banyak investor yang mulai ingin menarik kembali uang yang telah disetorkan, tetapi hal tersebut tidak bisa dipenuhi oleh perusahaan. Karena kasus ini, banyak investor yang telah mengalami kerugian ratusan juta. 

Langkah Penting yang Harus Dilakukan Agar Tidak Terjebak Investasi Bodong

Kasus seperti Kampung Kurma bukanlah yang pertama terjadi, dan bukan tidak mungkin akan bermunculan lagi investasi bodong serupa. Anda harus waspada agar tidak terjebak dalam investasi bodong seperti ini. Berikut ini beberapa hal yang dapat dipelajari dari kasus investasi bodong Kampung Kurma.

  • Selalu cari tahu identitas perusahaan dan teliti rekam jejaknya

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi di suatu perusahaan, periksa terlebih dahulu identitas orang yang menawarkan investasi serta perusahaannya. Cari tahu apakah sudah memiliki izin resmi atau belum.

Selain itu, Anda juga bisa melihat rekam jejak pengelola perusahaan atau orang yang terlibat di dalamnya. Anda selalu bisa memanfaatkan internet untuk mencari tahu apakah orang yang terlibat di dalamnya bermasalah atau tidak.

  • Cari tahu risikonya

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan investor pemula adalah tergoda keuntungan besar dan cepat. Anda harus ingat, investasi bagaikan dua sisi koin. Di satu sisi, investasi berpotensi menghasilkan keuntungan, tetapi di sisi lain juga berisiko. Tidak ada investasi yang bebas risiko, sekalipun digadang-gadang sebagai syariah ataupun antiriba.

Baca juga: 6 Strategi Mengukur Risiko Investasi

  • Tanya pendapat orang lain

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, mintalah pendapat dari pihak ketiga. Akan lebih baik pula jika Anda meminta pendapat dari orang yang sudah tahu betul seluk beluk dunia investasi. Sudut pandang orang lain biasanya akan memberikan gambaran yang tidak bisa terlihat oleh Anda sebelumnya.

  • Lakukan verifikasi

Lakukan verifikasi terlebih dahulu. Dalam kasus Kampung Kurma, misalnya, calon investor seharusnya memeriksa lokasi yang dijanjikan terlebih dahulu apakah benar ada aktivitas pembangunan seperti yang direncanakan. 

  • Berinvestasi di instrumen yang dipahami

Berinvestasi di instrumen investasi yang baru dan tidak dipahami sangatlah berisiko, apalagi jika Anda masih awam dalam hal investasi. Oleh karena itu, akan lebih bijak untuk memilih instrumen yang sudah Anda pahami betul. Jika memang belum memahami, pelajari dengan sungguh-sungguh dan cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai instrumen tersebut.

Itulah beberapa hal yang bisa Anda pelajari dari kasus investasi bodong seperti Kampung Kurma. Meski terdengar buruk, jangan menjadi takut berinvestasi karena kasus seperti ini. Masih banyak perusahaan tepercaya di luar sana yang dapat memberikan keuntungan yang masuk akal untuk Anda.

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Akseleran menawarkan kesempatan pengembangan dana yang optimal dengan bunga rata-rata 10,5%-12% per tahun dan menggunakan proteksi asuransi 99% dari pokok pinjaman. Tentunya, semua itu dapat kamu mulai hanya dengan Rp100 ribu saja.

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]