Sejarah Hari Kesaktian Pancasila

0
153
Hari Kesaktian Pancasila

Hari Kesaktian Pancasila, berdasarkan Keppres No.153 Tahun 1967, ditetapkan untuk diperingati setiap tanggal 1 Oktober. Hari di mana bendera merah putih dikibarkan satu tiang penuh, setelah pada 30 September berkibar setengah tiang untuk memberikan penghormatan pada para pahlawan revolusi yang gugur di peristiwa G30S. Jelang peringatan Kesaktian Pancasila, mari kita kembali menelusuri jejak sejarah. Mengingat kembali, bagaimana bangsa Indonesia begitu gigih mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara.

Gugurnya Pahlawan Revolusi

Seperti telah disampaikan sebelumnya, Hari Kesaktian Pancasila tidak lepas dari kisah kelam di penghujung September 1965. Ketika seorang perwira dan enam jenderal menjadi korban kekejaman oknum-oknum yang menurut otoritas militer kala itu terkait erat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Tragedi memilukan tersebut bermula dari rencana penculikan delapan jenderal Angkatan Darat, dengan target utama Jenderal Abdul Haris Nasution. Brigjen Ahmad Soekendro, salah satu target penculikan, berhasil luput karena tengah melakukan perjalanan ke China. 

Kronologi kejadian diungkap salah satu pelaku penculikan, Sersan Mayor Boengkoes. Di sore hari tanggal 30 September, ada arahan pada resimen Cakrabirawa bahwa terdapat sekelompok jenderal yang berniat melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Dini harinya, pasukan dikumpulkan oleh Letnan Satu Doel Arif yang menjabat Komandan Resimen Cakrabirawa. Pasukan kemudian dibagi tujuh kelompok untuk menculik tujuh jenderal di kediamannya.  

Menurut rencana, penculikan yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk menghabisi para jenderal, melainkan hanya akan membawa jenderal-jenderal menghadap Presiden Soekarno. Sedianya personel yang terlibat berjumlah ratusan, tetapi yang hadir tidak sampai 100 orang. Operasi G30S yang digadang-gadang dapat memantik revolusi, nyatanya jauh dari harapan. 

Penculikan pun tetap dilaksanakan, di bawah komando Letkol Untung, dan berubah menjadi tragedi berdarah. Jenderal TNI (Anumerta) Achmad Yani, Mayjen (Anumerta) MT Haryono, dan Mayjen (Anumerta) DI Pandjaitan,  gugur ditembak di kediamannya. Tiga jenderal lainnya, yaitu Letnan Jenderal (Anumerta) Soeprapto, Letnan Jenderal (Anumerta) S.Parman, serta Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomihardjo, ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke Lubang Buaya. 

Jenderal Abdul Haris Nasution, yang merupakan target utama, berhasil lolos dari penculikan kendati terkena tembakan di kaki. Sayangnya, Ade Irma Nasution, putri AH Nasution tidak dapat terselamatkan setelah turut tertembak. Sementara Ajudan Jenderal AH Nasution, Letnan Satu Corps Zeni (Anumerta) Pierre Andreas Tendean, ikut diculik karena dikira Jenderal Nasution.

Jasad para korban kemudian dimasukkan ke sebuah lubang bekas sumur. Pada proses pencarian di tanggal 3 Oktober 1965, akhirnya jasad korban ditemukan di kedalaman 8 meter. Baru keesokan harinya, satu per satu jasad diangkat dari lubang sumur yang sudah ditimbun tanah, sampah, dan dedaunan.

Penumpasan Pelaku Utama Gerakan 30 September 

Tanggal 1 Oktober 1965, pukul 7 pagi, RRI menyiarkan pesan dari Letkol Untung Sjamsuri. Disebutkan bahwa beberapa lokasi strategis di Jakarta sudah berhasil diambil alih PKI. Pengejaran tokoh-tokoh di balik operasi G30S dimulai sore harinya. Satuan RPKAD, yang dipimpin Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, dapat merebut kembali Kantor Pusat Telekomunikasi dan Gedung RRI.

Pada persiapan operasi G30S, DN Aidit banyak melakukan koordinasi dengan Sjam Kamaruzaman. Sjam adalah pimpinan intel resimen Cakrabirawa, sekaligus kepala biro khusus PKI. Kolonel Abdul Latief, yang juga pelaku G30S, mengaku para jenderal dihabisi atas perintah dari Sjam.

Sjam dieksekusi mati pada tahun 1986, setelah sebelumnya mendekam di penjara Cipinang. DN Aidit selaku orang nomor satu PKI, tewas diberondong AK-47 di markas militer. Letkol Untung Sjamsuri mendapatkan hukuman mati dan dieksekusi tahun 1966. Sekitar satu juta kader dan anggota Partai Komunis Indonesia turut dihabisi karena dianggap terlibat dalam G30S.

Baca juga: Maknai Hari Pendidikan Nasional Bersama Akseleran!

Upaya untuk Mengganti Ideologi Negara

Hari Kesaktian Pancasila memiliki arti yang sangat mendalam bagi bangsa Indonesia.  Sejak Indonesia merdeka, tidak sedikit rongrongan pada ideologi Pancasila, sebut saja pemberontakan Madiun di tahun 1948, Permesta/PRRI, dan tentu saja peristiwa G30S. Meski demikian, Pancasila mampu bertahan dari upaya-upaya yang dilakukan untuk mengganti ideologi Indonesia. 

Memaknai Hari Kesaktian Pancasila

Ideologi berisi kumpulan ide-ide, gagasan, keyakinan mengenai berbagai bidang kehidupan, yang  sistematis dan menyeluruh. Ideologi bagi sebuah bangsa memegang peranan penting untuk  mempersatukan kendati di tengah keberagaman, membangun rasa kebersamaan, dan membentuk identitas. 

Pancasila sebagai ideologi negara, merupakan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi segenap rakyat Indonesia. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momen yang tepat untuk menggali nilai-nilai luhur yang terkandung pada pancasila, memahaminya, dan menerapkan di kehidupan sehari-hari.  

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang igin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Akseleran menawarkan kesempatan pengembangan dana yang optimal dengan bunga rata-rata hingga 10,5% per tahun dan menggunakan proteksi asuransi 99% dari pokok pinjaman. Tentunya, semua itu dapat kamu mulai hanya dengan Rp100 ribu saja.

BLOG100

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk pertanyaan lebih lanjut dapat menghubungi Customer Service Akseleran di (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]