Apa Itu Fenomena Ekonomi Stagflation?

0
679
Apa Itu Fenomena Ekonomi Stagflation?

Menjelang tahun 2023, banyak sekali prediksi khususnya terkait perekonomian yang diramalkan akan terjadi. Salah satunya adalah stagflation, fenomena ekonomi langka yang mungkin terjadi tahun depan. Mungkin sekarang kita sudah mulai merasakan beberapa harga kebutuhan mulai naik yang disebabkan oleh inflasi. Normalnya saat terjadi inflasi dan harga barang naik, para pelaku usaha juga menaikan harga jual produk mereka supaya pendapatannya tetap sama. Contohnya, jika harga BBM naik, otomatis tarif ojek online pun naik. Meskipun inflasi meningkat, namun perekonomian juga bisa terangkat karena perdagangan berjalan cepat. Tapi anehnya, pola ekonomi ini tidak terjadi belakangan ini alias inflasi yang ada kian tinggi, sementara ekonomi mandek.

Kondisi inilah yang dipercaya akan terjadi tahun 2023 nanti, di mana inflasi terjadi dan harga kebutuhan meningkat, tapi tidak dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi atau ekonominya malah melambat. Pendatan korporasi turun, PHK tinggi, dan angka pengangguran terus meningkat. Fenomena melambatnya pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya harga kebutuhan dan pengangguran ini disebut Stagflation, yang artinya Stagnant (tidak ada pertumbuhan) dan Inflation (harga barang naik).

Dalam keadaan normal, pemerintah dapat menurunkan suku bunga pinjaman supaya menarik minat pelaku usaha agar dapat memacu ekonomi. Tapi dalam kondisi stagflation, kebijakan moneter seperti ini tidak berefek dalam memacu ekonomi. Salah satu penyebab terjadinya stagflation adalah inflation dalam format Cost Push Inflation, dimana inflasi atau kenaikan harga terjadi karena kenaikan harga bahan baku dan kelangkaan supply, dan bukan disebabkan karena kenaikan dari permintaan.

Kondisi ekonomi sekarang sangat mirip dengan kondisi ekonomi di sekitar tahun 1970an dimana stagflation pernah terjadi inflasi menuju titik tertinggi, krisis energi dan kenaikan harga minyak dunia, dan juga indeks saham S&P 500 stagnan. Kemiripan kondisi ini juga ditunjang dengan adanya konflik dimana di tahun 1970 ada konflik Israel dengan Mesir memperebutkan terusan Suez, sementara saat ini sedang terjadi agresi militer Rusia ke Ukraina.

Di tahun 1970, kebijakan moneter yang dibuat pun terus gagal. Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon meningkatkan tarif impor, melarang kenaikan gaji dan kenaikan barang selama 3 bulan demi menghalau inflasi. Saat aturan ini dicabut, yang terjadi malah inflasi parah dan kekacauan ekonomi. Serupa dengan apa yang terjadi di tahun ini, dimana imbas dari pandemi selama 2 tahun sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat mencetak uang lebih dari $3 triliun (Rp45.000 T) untuk menopang perekonomian dikala pandemi. Namun sekarang uang yang beredar terlalu banyak ini malah menyebabkan inflasi tinggi di Amerika dan menjalar ke seluruh dunia.

Semua indikator ekonomi ini menunjukkan adanya kemiripan kondisi ekonomi saat ini dengan kondisi buruk ekonomi di tahun 1970an dulu. Karena itu banyak yang mencemaskan kondisi ekonomi di tahun 2023 nanti, dan setelahnya bisa sama buruknya dengan kondisi di tahun 70an dulu.

Ayo dukung pertumbuhan ekonomi dengan memberikan pendanaan UMKM secara aman di Akseleran! Daftar sekarang dan dapatkan imbal hasil hingga 10,5% per tahun di Akseleran.

Akseleran memberikan saldo awal senilai Rp100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode CORCOMMBLOG. Melakukan pendanaan di P2P Lending Akseleran juga sangat aman karena lebih dari 98% nilai portofolio pinjamannya memiliki agunan. Sehingga dapat menekan tingkat risiko yang ada. Akseleran juga sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor surat KEP-122/D.05/2019 sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin.

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau via email [email protected]

Penulis: Ayu Diah Callista | Editor: Rimba Laut