Dotcom Bubble: Masa Kelam Internet di Awal 2000

0
5808
Dotcom Bubble Adalah

Di awal penggunaan internet, Anda mungkin melihat lebih banyak website dotcom. Tak lama kemudian, keluarlah istilah dotcom bubble, yang menandai masa kelam internet di awal 2000. Nah, apa itu dotcom bubble?

Sekilas Tentang Dotcom Bubble

Dotcom Bubble adalah gelembung teknologi informasi. Istilah ini juga bisa diartikan sebagai gelembung spekulasi yang muncul pada rentang 1998 – 2000. Saat itu, banyak bursa saham di negara-negara industri yang naik secara tajam dari segi ekuitas. Peristiwa itu juga mendukung tumbuhnya industri berbasis internet dan bidang-bidang yang berkaitan.

Apakah fenomena ini lantas berbanding lurus dengan kesuksesan perusahaan-perusahaan startup digital tersebut? Sayangnya tidak demikian. Banyak perusahaan yang tadinya sukses besar secepat kilat, lalu hilang kemudian ibarat supernova selesai bersinar.

Contoh: Pets.com hanya bertahan selama sembilan bulan sebelum bangkrut. Beberapa perusahaan berbasis digital lain, seperti Boo.com, Webvan, dan beberapa perusahaan telekomunikasi lainnya, langsung bubar jalan juga. Kalau ditotal, rata-rata saham perusahaan berbasis internet malah turun hingga 75 persen.

Tidak Semua Perusahaan Digital Hancur Karena Dotcom Bubble

Untungnya, tidak semua perusahaan berbasis digital langsung hancur karena pengaruh dotcom bubble. Contoh: Cisco, Oracle, Intel, Amazon, eBay, dan masih banyak lagi. Mereka memang sempat ikutan jatuh, sebelum kembali pulih dengan cepat. Menurut laporan CNet, sebanyak 48 persen perusahaan dotcom berhasil bangkit kembali.

Fenomena ini banyak terjadi di Amerika Serikat. Saat itu, memang banyak perusahaan digital yang langsung melepas saham mereka ke publik.

Penyebab Terjadinya Dotcom Bubble

Pada rentang 1994 – 2000, industri berbasis internet tengah berkembang sangat pesat. Banyak orang yang kemudian berlomba-lomba untuk mempunyai komputer atau laptop sendiri. Mereka juga berusaha untuk mempunyai jaringan internet sendiri, meskipun saat itu masih lewat telepon atau menggunakan sistem dial-up.

Tren ini disambut para investor dengan antusias. Mereka bersemangat sekali menggelontorkan dana besar untuk mendukung kemajuan perusahaan-perusahaan berbasis internet yang baru berkembang. Harapan mereka tidak hanya berupa balik modal, tetapi juga keuntungan besar. Apalagi, saat itu internet masih diperlakukan sebagai penemuan baru yang dipercaya akan menguntungkan banyak pihak.

Salah satu contoh perusahaan internet yang saat itu optimis melepaskan saham ke publik adalah Netscape. Saham mereka ternyata laku keras. Sekadar info, Netscape adalah browser pertama selain Internet Explorer buatan Microsoft. Browser yang kini lebih banyak digunakan adalah Google Chrome, Mozilla Firefox, hingga Safari.

Seberapa sukseskah penjualan saham Netscape ke publik? Pada Agustus 1995, penjualan saham perdana mereka (IPO) ditutup dengan jumlah USD 58,25. Valuasi yang didapatkan perusahaan ini adalah USD 2,9 miliar. Langkah mereka mulai diikuti oleh Yahoo, Lycos, dan Excite pada tahun 1996.

Pecahnya Gelembung Dotcom

Sama seperti lazimnya manusia yang terlena saat lama merasa ‘di atas angin’, begitu pula para investor pada masa itu. Karena terlalu bersemangat menggelontorkan dana besar secara serampangan, akibatnya sudah bisa ditebak. Perusahaan-perusahaan digital tersebut mempunyai nilai pasar jauh di atas nilai mereka yang sesungguhnya.

Banyak investor yang seakan tidak peduli bila perusahaan yang mereka danai tidak punya arah bisnis yang jelas. Apalagi, kultur startup yang cenderung lebih fleksibel daripada perusahaan konvensional membuat para pebisnis tersebut terkesan kurang ‘menjejak bumi’ dengan realitas di sekitar mereka. Kemudahan perusahaan startup untuk berganti haluan bisnis juga membuat mereka rentan tidak stabil.

Baca juga: Ini Hal yang Bisa Dilakukan Untuk Membantu Mencegah Krisis Global

Dotcom bubble adalah gelembung yang tercipta gara-gara kemudahan modal, kepercayaan pasar yang terlalu besar, serta spekulasi murni. Maka, saat indeks Nasdaq mencapai puncak pada 10 Maret 2000 dengan nilai 5048, beberapa perusahaan digital lain langsung latah. Dell dan Cisco ikut menempatkan saham mereka untuk ditawarkan di publik secara besar-besaran.

Maka terjadilah panic buying di kalangan investor. Sesudah beberapa minggu, saham langsung anjlok sebanyak 10 persen. Pada akhir 2001, banyak perusahaan dotcom yang gulung tikar serentak, sementara investasi sebanyak triliunan dolar langsung amblas tanpa bekas.

Dotcum bubble adalah sejarah yang semoga tidak perlu kita ulangi lagi. Sebagai pebisnis berbasis digital, kita tidak hanya harus bisa bertahan melainkan harus bertumbuh secara signifikan dan menikmati setiap prosesnya. Hendaknya jangan terburu-buru untuk sampai di atas, apalagi era pandemi ini serba tidak pasti.

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Sebagai platform pengembangan dana yang optimal dengan bunga hingga 16% per tahun kamu dapat memulainya hanya dengan Rp100 ribu saja.

BLOG100

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]