Berbisnis atau Berinvestasi? Ini Cara Memilihnya

0
250
Akseleran_Article_Featured_Image_1366x768_2020_Berbisnis_Berinvestasi

Ketika seseorang memiliki dana lebih dan memiliki keinginan untuk mengembangkan dana tersebut, biasanya ada dua cara untuk mencapainya: berbisnis atau berinvestasi.

Dilema yang bisa dialami adalah bagaimana memilih di antara keduanya apalagi jika dana lebih tersebut jumlahnya enggak besar-besar banget. Tentunya perlu ada panduan atau indikator agar seseorang dapat memutuskan apakah harus berbisnis atau berinvestasi.

Salah satu indikator yang bisa dilihat adalah dari sisi potensi keuntungan yang bisa didapat. Dalam hal ini kita bisa menggunakan metric Tingkat Keuntungan atau Rate of Return.

Sebelum melanjutkan lebih jauh, saya ingin memberikan disclaimer bahwa saya bukanlah perencana keuangan, dan menulis artikel ini berdasarkan pengetahuan yang saya miliki saat ini.

Menggunakan IRR dalam memutuskan Berbisnis atau Berinvestasi

Dalam kasus memilih berbisnis atau berinvestasi ini, saya menganalogikan berbisnis sebagai sebuah project. Dalam sebuah project tentunya ada tujuan yang ingin dicapai dan juga batas waktu maksimal sampai kita bisa mengatakan project sukses atau selesai.

Dalam berbisnis kita juga bisa set ekspektasi kapan kita mau mulai mendapatkan keuntungan dan juga Rate of Returnnya. Di sebuah project kita mengenal indikator return dengan nama Internal Rate of Return (IRR).

Semakin tinggi IRR berarti semakin bagus projectnya untuk dijalankan. Akan tetapi bagaimana kita bisa tahu sebuah IRR terhitung tinggi atau rendah? Kita perlu membandingkannya dengan angka acuan Minimum Attractive Rate of Return atau MARR.

MARR sebagai evaluator dari IRR

Dalam sebuah project MARR bisa berupa Hurdle Rate atau Cost of Capital, yaitu kombinasi dari biaya modal (cost of equity) dan biaya hutang (cost of debt).

Karena dalam artikel ini kita ingin mengambil keputusan apakah lebih baik berbisnis atau berinvestasi, maka MARR yang kita pakai bisa berupa Rate of Return di sebuah instrumen investasi.

Dalam hal ini kita bisa ambil MARR di angka 13% per tahun, dengan mengacu kepada rata-rata return tahunan IHSG di pasar modal dari 1997 sampai 2019 (berdasarkan data IDX yang diolah situs BolaSalju). Jika IRR dari bisnis kita lebih kecil dari 13% per tahun, maka kita lebih baik memakai dana kita di instrumen investasi.

Ilustrasi Perhitungan IRR sebelum berbisnis

Sebagai ilustrasi, kita ambil contoh Andi ingin memulai bisnis Coffee Shop sederhana. Untuk memulai bisnis ini, Andi membutuhkan modal atau dana awal Rp. 250,000,000.

Dalam menjual segelas kopi, Andi bisa menjual dengan harga Rp. 20,000 dan margin 100%, sehingga profit per gelas kopi yang didapatkan adalah Rp. 10,000. Dalam sebulan, Andi mampu menjual 1000 gelas kopi, sehingga profit per bulannya adalah Rp. 10,000,000 (dengan asumsi sudah dikurangi semua biaya yang ada).

Apakah IRR yang didapatkan bisa lebih baik dari tingkat MARR sebesar 13% per tahun? Mari kita lihat perhitungan di bawah ini.

Harga Jual / Cup 20,000
Margin 100%
Profit / Cup 10,000
Rata-rata Penjualan/Bulan (dalam Cup) 1,000
Rata-rata Profit / Bulan 10,000,000
Modal Awal -250,000,000
Pendapatan Bulan 1 10,000,000
Pendapatan Bulan 2 10,000,000
Pendapatan Bulan 3 10,000,000
Pendapatan Bulan 4 10,000,000
Pendapatan Bulan 5 10,000,000
Pendapatan Bulan 6 10,000,000
Pendapatan Bulan 7 10,000,000
Pendapatan Bulan 8 10,000,000
Pendapatan Bulan 9 10,000,000
Pendapatan Bulan 10 10,000,000
Pendapatan Bulan 11 10,000,000
Pendapatan Bulan 12 10,000,000
IRR -9.81%

Setelah dihitung, ternyata pendapatan Rp. 10,000,000 per bulan tidak mampu memberikan IRR lebih besar dari 13% per tahun, dan malah memberikan hasil negatif.

Apabila Andi ingin mendapatkan Rate of Return 13% per tahun dalam waktu 12 bulan, maka Andi lebih baik menginvestasikan dananya di sebuah instrumen investasi, contohnya di pasar modal.

Akan tetapi Andi juga perlu mempelajari instrumen investasi yang ingin dimasuki, agar dapat mengetahui risiko yang menyertai setiap instrumen investasi.

Faktor Lain Dalam Memilih Untuk Berbisnis

IRR vs. MARR di atas hanyalah salah satu pertimbangan dalam memutuskan untuk berbisnis / membuka usaha. Dalam kenyataannya banyak faktor lain yang bisa juga masuk ke dalam pertimbangan seperti:

  • Passion di bidang tertentu
  • Keinginan membuka lapangan pekerjaan lebih luas
  • Adanya peluang pasar yang belum terjamah
  • Sudah memiliki competitive advantage bahkan sebelum memulai usaha
  • Dan lain-lain

Pendanaan P2P Lending Sebagai Alternatif dari Berbisnis dan Berinvestasi

Selain berbisnis atau berinvestasi, sebenarnya saat ini ada satu pilihan lagi yaitu Pendanaan P2P Lending. Di platform P2P Lending ini kita berperan sebagai pemberi pinjaman (lender) yang memberikan dana pinjaman ke Usaha Kecil Menengah (UKM) yang butuh dana untuk mengembangkan usahanya.

Sebagai disclaimer, industri fintech lending di Indonesia tidak menyebut P2P Lending sebagai “investasi”, karena bentuknya pemberian pinjaman, maka kami menyebutnya “Pendanaan” atau “Pemberian Pinjaman”, atau “Pengembangan Dana”.

Sebagai Lender, kita akan mendapatkan bunga dari pemberian pinjaman ini. Besarnya bunga ini bermacam-macam untuk setiap platform, akan tetapi rata-rata di Akseleran bisa sekitar 15% – 18% per tahun. Jika kita hitung risikonya, yaitu pinjaman macet / Non Performing Loan (NPL), maka rata-rata pendapatan bunga bersih lender bisa sekitar 13%-14% per tahun.

Saat ini pendanaan P2P Lending di Akseleran juga ada proteksi asuransi yang dapat melindungi pokok pinjaman tertunggak sampai dengan 90%, selain dari adanya agunan Invoice/PO/SPK/Kontrak.

Karena bisa dimulai dari Rp. 100,000 saja, jadinya semua orang bisa memulai mengembangkan dananya di Akseleran.

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]