Balance Scorecard: Definisi, Konsep, dan Perspektifnya

1
548
Balance Scorecard

Sering disebut sebagai strategi manajemen, Balance Scorecard (BSC) merupakan sistem yang dipakai perusahaan dalam mengukur hasil kerja. Mekanisme tersebut pertama kali dikenalkan ke publik pada tahun 1992 oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton. Ingin mengenal strategi manajemen ini lebih jauh? Yuk, simak penjelasan detailnya dalam ulasan berikut.

Definisi Balance Scorecard

BSC terdiri dari 2 suku kata, yakni balanced dan scorecard. Balanced memiliki arti berimbang, sedangkan scorecard berarti kartu skor. Maksud dari balanced di sini adalah saat mengukur kinerja suatu organisasi atau seseorang, hal itu harus dilakukan secara berimbang, yang didasarkan pada dua sudut pandang, yaitu non-keuangan dan keuangan, jangka panjang dan pendek, serta faktor eksternal dan internal. 

Sementara itu, jika merujuk pada scorecard, maksud dari istilah tersebut merujuk pada kartu skor yang dipakai dalam mengukur kinerja perusahaan di masa mendatang. Maka bila ditarik kesimpulan, BSC dapat dimaknai sebagai alat untuk mengukur kinerja suatu perusahaan yang didasarkan pada indikator yang ditetapkan sebelumnya. 

Konsep Balance Scorecard

Dibahas dalam Harvard Business Review tahun 1992, yang bertajuk “The Balanced Scorecard: Measures that drive performance.“, konsep Balance Scorecard sendiri terfokus pada tiga aspek, yakni:

  • Mengidentifikasi visi dan misi yang dimiliki suatu perusahaan atau organisasi
  • Mengidentifikasi strategi perusahaan dalam meraih target yang diinginkan
  • Menganalisis kinerja perusahaan atau organisasi berdasarkan perspektif tertentu, yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana hasil akhir dari strategi yang diterapkan  

Baca juga: Pentingnya Melakukan Analisis Transaksi dalam Akuntansi

Perspektif Balance Scorecard

Dalam praktiknya, BSC juga harus dapat memenuhi empat perspektif penting, yaitu proses bisnis internal, keuangan, pelanggan, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Berikut ini penjelasannya.

Perspektif Keuangan

Perspektif yang satu ini tentunya sangat berkaitan dengan pengeluaran dan pemasukan suatu perusahaan. Artinya, sebuah perusahaan harus mampu mengelola keuangannya secara baik supaya bisa memastikan kondisi finansialnya tetap stabil. Pengelolaan finansial yang dimaksud di sini berkaitan erat dengan biaya produksi, biaya operasional, biaya tenaga kerja, biaya bahan baku, dan keuangan yang diperoleh dari penjualan. 

Oleh karenanya, perusahaan harus mencatat pemasukan dan pengeluarannya secara jelas dan runtut. Dengan demikian, laju pertumbuhan keuangan pun dapat dipantau dengan baik oleh perusahaan. Adapun tiga tolok ukur yang diaplikasikan dalam perspektif keuangan, antara lain: 

  • Pertumbuhan yang diperoleh dari pertambahan selama proses bisnis berjalan
  • Pengoptimalan strategi investasi dan penurunan aset yang menuju ke arah peningkatan pendapatan
  • Berusaha meningkatkan produktivitas kerja atau menurunkan biaya produksi

Perusahaan dapat menjadikan tiga tolok ukur di atas sebagai pedoman dalam menjalankan usahanya. Di sisi lain, penerapan indikator tersebut juga dapat membantu pemilik bisnis untuk mengetahui ada di tahap manakah perusahaannya saat ini berada.

Perspektif Pelanggan

Jika merujuk pada perspektif pelanggan, suatu perusahaan harus terlebih dahulu menentukan siapa pelanggan atau segmen pasar yang hendak ditargetkan. Setelah itu, pihak manajemen dapat menentukan alat untuk mengukur kinerja setiap unit operasional di perusahaan—sebagai upaya guna memastikan target finansial yang telah ditetapkan dapat dicapai. 

Dalam mencapai kinerja keuangan terbaik dalam jangka panjang, setiap unit tentunya harus dapat menciptakan jasa atau produk berkualitas yang dapat memuaskan pelanggan. Pasalnya, suatu layanan jasa atau produk dikatakan berkualitas baik hanya jika dapat memberikan manfaat yang tinggi. Pengukuran perspektif pelanggan sendiri terbagi jadi dua kelompok, yakni customer value proposition dan core measurement group. 

Perspektif Proses Bisnis Internal

Dalam perspektif ini, perusahaan perlu mengukur seberapa besar sinergi setiap unit kerjanya. Maka dalam penerapannya, pemilik usaha pun harus rajin mengamati kondisi internal perusahaannya. Mereka harus memastikan bahwa kegiatan operasional di perusahaan telah dijalankan sesuai peraturan atau metode manajemen yang ditetapkan.  

Selain itu, untuk menghasilkan proses bisnis internal yang baik, perusahaan wajib memastikan bahwa setiap karyawan memiliki kemampuan dan keahlian yang sesuai bidang masing-masing. 

Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Karyawan menjadi salah satu aspek yang mendukung keberhasilan perspektif pelanggan dan keuangan. Maka dari itu, pihak manajemen perlu menerapkan prosedur dan sistem kerja yang tepat untuk mengontrol internal perusahaan. Adapun tiga tolok ukur yang dipakai dalam perspektif ini adalah sebagai berikut.

  • Kemampuan atau kapabilitas karyawan 
  • Kapabilitas dalam mengelola sistem informasi
  • Dorongan, garis tanggung jawab, dan motivasi

Demikian penjelasan seputar BSC. Dengan adanya Balance Scorecard, perusahaan tentunya dapat mengenali titik kelemahannya dan lebih mudah mencari solusi atas setiap kendala yang ditemuinya selama proses bisnis berlangsung. 

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Akseleran menawarkan kesempatan pengembangan dana yang optimal dengan bunga rata-rata hingga 10,5% per tahun dan menggunakan proteksi asuransi 99% dari pokok pinjaman. Tentunya, semua itu dapat kamu mulai hanya dengan Rp100 ribu saja.

BLOG100

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk pertanyaan lebih lanjut dapat menghubungi Customer Service Akseleran di (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]